Kodrat gelap
-(Selasa, 3 Februari 2026)-
Mungkin pandangan ini terdengar terlalu ekstrem. Barangkali pula ia lahir dari pengaruh film-film thriller kriminal yang gemar menguliti sisi tergelap manusia. Bisa juga dari bacaan sejarah tentang perang, pembantaian, dan kekejaman yang berulang tanpa pernah benar-benar usai. Atau dari percakapan di media sosial hari ini yang penuh emosi, kemarahan, dan penghakiman. Semua itu, disadari atau tidak, perlahan menuntun saya pada satu kesimpulan yang muram: manusia akan selalu menjadi sumber kekacauan.
Tentu tidak semua manusia demikian. Namun hampir selalu ada, di antara kita, mereka yang menyimpan hasrat keji—entah atas nama egoisme, dendam, amarah, kecemburuan, keserakahan, atau sekadar ketidakmampuan mengendalikan diri. Sifat-sifat itu seperti bara kecil: tampak sepele, tetapi cukup satu hembusan angin untuk menjelma api yang membakar sekelilingnya.
Banyak film telah menggambarkan konsekuensi dari sisi gelap ini. Kerusakan demi kerusakan ditampilkan bukan sebagai kecelakaan, melainkan sebagai hasil logis dari sifat buruk manusia yang dibiarkan tumbuh. Pada titik tertentu, semua itu menumbuhkan rasa saling curiga. Kepercayaan menjadi barang langka. Barangkali inilah sebabnya intrik tak pernah absen—baik dalam panggung besar bernama politik, maupun dalam ruang sempit seperti keluarga atau kantor.
Yang menarik, keburukan itu tidak mengenal latar. Ia tumbuh di lingkungan mapan maupun kekurangan, di kota maupun desa, di kalangan religius maupun liberal. Seolah ada sesuatu yang selalu membisiki manusia untuk menyuburkan sisi gelapnya. Dalam bahasa agama, bisikan itu disebut setan atau iblis—simbol dari dorongan destruktif yang tak pernah lelah menguji batas moral manusia.
Dari sini kita bisa memahami mengapa kasus-kasus pelanggaran tetap muncul, bahkan di organisasi yang telah melangkah jauh dalam membangun sistem integritas. Edukasi telah dilakukan, seminar digelar, nilai-nilai diinternalisasi. Namun kenyataannya, itu semua belum tentu cukup. Ada titik di mana kata-kata kehilangan daya, dan peringatan berubah menjadi kebisingan belaka.
Barangkali yang dibutuhkan bukan lagi puisi tentang kejujuran di tengah ruang seminar berpendingin udara. Bukan pula slogan integritas yang dipajang rapi di dinding. Melainkan tindakan tegas—bahkan keras—sebagai bentuk seleksi alam. Seperti upaya menghapus kebencian atau dendam yang berakhir sia-sia, terkadang satu-satunya cara mencegah kerusakan adalah dengan mengurung sumbernya, membatasi ruang geraknya, dan menegakkan konsekuensi tanpa kompromi.
Pada akhirnya, mengingatkan manusia agar jujur dan berintegritas tidak cukup dengan nasihat yang indah. Sebab sebagian dari kita hanya belajar dari satu hal: akibat. Dan mungkin, di situlah ironi terbesar manusia—kita baru memilih terang setelah benar-benar merasakan gelap.