Propaganda film

-(Sabtu, 31 Januari 2026)-

Menonton film-film Barat, bagi saya, bukan sekadar perkara hiburan. Ia memang menyenangkan, tetapi juga menuntut sikap waspada. Di balik alur cerita yang rapi, sinematografi yang memikat, dan dialog yang terasa wajar, sering kali terselip pesan-pesan tertentu—bahkan propaganda—tentang budaya dan cara pandang yang perlahan ingin ditanamkan kepada penontonnya.

Salah satu yang paling mudah terbaca adalah bagaimana hubungan intim pra nikah ditampilkan sebagai sesuatu yang lumrah. Yang lebih jauh lagi, film-film tersebut kerap menghadirkan relasi sejenis—hingga perkawinan sejenis—seolah-olah itu adalah realitas sosial yang sepenuhnya normal dan diterima. Padahal, bagi masyarakat Timur dan dalam kerangka ajaran agama, dua hal ini jelas bertentangan dengan nilai yang selama ini dijaga.

Yang menarik, bahkan mengkhawatirkan, bukan semata apa yang ditampilkan, melainkan bagaimana ia ditampilkan. Relasi-relasi tersebut digambarkan hidup tenang, diterima lingkungan sekitar, tanpa konflik berarti. Tidak ada penolakan sosial, tidak ada kegelisahan moral. Seolah film itu berbisik pelan kepada penontonnya: “Kami baik-baik saja dengan semua ini.” Sebuah bisikan yang jika diulang terus-menerus, lama-lama bisa terdengar seperti kebenaran.

Di titik ini, sulit untuk percaya bahwa semua ini sekadar urusan cuan dan pasar. Terlalu rapi, terlalu konsisten. Barangkali memang ada misi yang lebih dalam: normalisasi nilai-nilai yang selama ini bertabrakan dengan norma agama dan budaya, dengan bendera besar bernama hak asasi manusia. Atas nama kebebasan dan kesetaraan, semua dianggap sah, semua dianggap wajar, dan pada akhirnya: semua dianggap baik-baik saja.

Dampaknya pun tidak berhenti di layar. Ketika sesuatu terus-menerus disuguhkan sebagai kewajaran, masyarakat perlahan menurunkan daya kritisnya. Tidak ada lagi resistensi, apalagi tindakan represif. Yang tersisa hanyalah sikap “biarlah”, hingga kelompok-kelompok tersebut merasa leluasa dan terang-terangan menampilkan identitasnya di ruang publik.

Di sinilah saya teringat satu pertanyaan klasik dari Immanuel Kant, yang terasa begitu relevan: bagaimana jika semua orang melakukan hal yang sama? Jika prinsip ini digeneralisasi, apakah kehidupan masih akan berjalan dengan tatanan yang kita kenal hari ini?

Membayangkannya saja sudah cukup membuat gelisah. Seperti menarik satu benang kecil dari kain bernama peradaban—mula-mula tampak sepele, tetapi lama-lama seluruh tenunannya bisa terurai. Dan mungkin, di situlah pentingnya bersikap kritis: agar kita tetap menikmati cerita, tanpa kehilangan kompas nilai yang selama ini menuntun kita pulang.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"