Jejak digital
-(Sabtu, 10 Januari 2026)-
Saya membaca sebuah postingan di media sosial yang meminta AI memberikan jawaban. Soal yang diberikan dalam bentuk pilihan. Hanya saja, jawaban dari AI itu sepertinya tidak sesuai dengan yang diharapkan si penanya.
Setelah membaca jawaban itu, saya tiba pada satu kesimpulan: di zaman AI sekarang, sebuah narasi yang menyerang mesti dikonter dengan narasi juga. Artinya, jika narasi itu dibiarkan, kelak di kemudian hari yang dibaca AI hanyalah narasi yang menyerang itu.
Kita perlu memahami cara kerja AI secara lebih dingin. Ketika AI diberi pertanyaan, ia akan mencari jawaban dari sumber-sumber di internet. Ia menyusun respons berdasarkan data yang tersedia, bukan berdasarkan data yang ideal. Maka bayangkan skenario berikut: jika yang ia peroleh hanya bersumber dari kelompok tertentu, sementara kelompok lainnya tidak pernah memberikan tanggapan, AI barangkali hanya akan menyampaikan jawaban dari sumber yang ia temukan. Jika itu yang dibaca generasi masa depan melalui AI, bisa jadi itulah yang kemudian dianggap sebagai kebenaran.
Pada titik ini, persoalannya tidak lagi soal siapa yang benar hari ini, tetapi siapa yang paling banyak meninggalkan jejak di internet. Karena itu, penting sekali menyampaikan informasi dan data sebagai respons atas pernyataan atau serangan terhadap suatu isu. Narasi tandingan, data tandingan, dan sudut pandang lain harus hadir di ruang publik digital, agar masa depan tidak hanya mewarisi satu versi cerita.
Saya lalu mendorong imajinasi ini lebih jauh, ke wilayah yang lebih personal. Jika seseorang ingin diketahui oleh orang-orang di masa depan yang mengakses AI, maka ia perlu mulai memasok data dan informasi tentang dirinya. Jika yang diinginkan adalah agar generasi mendatang mengetahui kiprah dan pemikiran kita, maka tampaknya kita memang perlu lebih banyak menulis dan menyampaikan gagasan melalui media yang tersedia di internet.
Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya membaca apa yang kita lakukan, tetapi apa yang sempat kita tinggalkan. Dan di zaman AI, meninggalkan jejak berarti meninggalkan narasi—ditulis oleh tangan kita sendiri.