Ikan lepas
-(Sabtu, 17 Januari 2026)-
Saya punya ingatan tentang sungai kecil di masa kanak-kanak. Barangkali nama tepatnya bukan sungai, melainkan saluran air di persawahan. Setiap kali hujan turun, air di sana mengalir deras. Di situlah saya senang bermain, menikmati arus dan suasana yang bagi saya kala itu terasa menyenangkan.
Di kesempatan lain, saya mendatangi parit-parit kecil itu untuk mencari ikan. Ada ikan-ikan kecil yang terlihat, juga udang. Jika sedang beruntung, saya bisa mendapatkan ikan lele atau ikan gabus. Saya sangat senang ketika berhasil mendapatkannya, sebab itu berarti saya akan makan dengan lauk yang lebih enak: ikan goreng.
Namun kenyataannya, ada satu momen yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Sebuah pengalaman yang hingga kini masih membekas.
Saat itu, saya bersama banyak orang—para remaja dan beberapa orang tua—mencari ikan di sungai kecil yang melintas di dusun kami. Barangkali karena belum memahami dampak kerusakannya, ada yang menggunakan potasium. Yang membuat ikan-ikan menjadi teler, sehingga kami bisa menangkapnya dengan mudah.
Di salah satu tepian sungai, saya melihat seekor ikan yang cukup besar. Ikan itu tengah teler dan terdampar. Saya mencoba mendekat, dan dengan sangat hati-hati berusaha menangkapnya. Jantung saya berdebar kencang, karena sudah membayangkan keberhasilan mendapatkan ikan besar itu.
Saya berusaha secepat mungkin agar tangan saya bisa menangkapnya. Namun rupanya saya kalah cepat. Atau mungkin karena tubuhnya yang licin, ikan itu berhasil lepas dari genggaman dan kembali berenang, lalu pergi menjauh.
Itu adalah pengalaman kegagalan yang sungguh menyakitkan dan terus tertanam di benak saya. Dari peristiwa itu saya belajar bahwa meskipun sesuatu sudah ada di depan mata, ketika kemampuan untuk menangkapnya tidak kita miliki, rezeki bisa lepas begitu saja.
Barangkali hal itu juga berlaku dalam kehidupan. Di antara kita ada yang pernah berhadapan dengan sebuah kesempatan berharga, tetapi karena ketiadaan modal—yang bisa berupa kemampuan atau kompetensi—pada akhirnya kesempatan itu berlalu. Di situlah pentingnya menyiapkan bekal bagi setiap individu, agar ketika peluang datang, kita tidak hanya melihatnya, tetapi juga mampu meraihnya.