Hantu oligarki
-(Selasa, 17 Februari 2026)-
Belakangan ini, istilah oligarki kerap beredar di ruang publik. Ia diucapkan oleh politisi, diulang media, dan diperdebatkan di linimasa media sosial. Namun, semakin sering kata itu disebut, semakin besar pula tanda tanya yang tertinggal: siapa sebenarnya yang dimaksud dengan oligarki itu? Siapa saja mereka?
Fenomena ini mengingatkan saya pada penyebutan istilah lain yang tak kalah samar: para garong, antek-antek asing. Kata-kata ini hidup dan beredar luas, tetapi jarang—bahkan nyaris tak pernah—diikuti penjelasan yang konkret. Tak ada daftar nama, tak ada struktur yang jelas, tak ada batas yang tegas. Yang ada hanyalah gema tuduhan, berulang-ulang, seolah cukup dengan menyebutnya, maknanya akan kita pahami bersama.
Pertanyaan berikutnya menjadi menarik: orang-orang yang disebut sebagai oligarki itu, apakah mereka merasa dirinya oligarki? Rasanya sulit membayangkan ada seseorang yang dengan sukarela menyematkan label bernada negatif itu pada dirinya sendiri. Kata oligarki telah lama memikul konotasi buruk—rakus, manipulatif, anti-rakyat. Maka, besar kemungkinan, istilah ini lebih sering berfungsi sebagai tuduhan ketimbang deskripsi.
Lalu apa tujuan dari tuduhan itu? Apakah ia sekadar retorika politik—alat untuk menyederhanakan musuh dalam narasi? Ataukah ia strategi untuk mengonsolidasikan perlawanan terhadap kekuatan yang dianggap jahat dan menindas? Atau justru sebaliknya: karena sosok dan strukturnya tak pernah benar-benar jelas, istilah ini menciptakan semacam makhluk gaib baru—hantu bernama oligarki—yang kehadirannya lebih dirasakan lewat ketakutan ketimbang lewat bukti.
Ketika kata oligarki disebut, barangkali dalam benak banyak orang langsung muncul nama-nama tertentu. Wajah-wajah yang familiar, tokoh-tokoh yang kerap muncul di layar kaca atau halaman berita. Namun, benarkah imajinasi itu tepat? Kita tak pernah benar-benar bisa mengonfirmasinya. Yang kita miliki hanyalah asosiasi, dugaan, dan pengulangan.
Hal serupa terjadi pada istilah bandar dalam gonjang-ganjing IHSG belakangan ini. Kata itu terdengar kuat, penuh kuasa, seolah menunjuk pada satu entitas besar yang menggerakkan pasar sesuka hati. Tapi lagi-lagi, siapa sebenarnya bandar itu? Individu? Kelompok? Institusi? Atau sekadar simbol untuk menjelaskan sesuatu yang terlalu rumit jika harus diurai dengan data dan mekanisme pasar?
Belum lagi istilah elit global yang sudah lama menghantui wacana publik. Sebuah frasa yang terdengar maha-kuat dan lintas batas, lalu dengan mudah disematkan pada beberapa orang tertentu. Tuduhan pun mengalir, sering kali tanpa fondasi yang kokoh. Nama disebut, motif diasumsikan, jejaring dibayangkan.
Entahlah. Sulit memastikan apa sebenarnya tujuan dari semua penyebutan ini. Apakah ia hanya memancing rasa penasaran dan saling tuduh? Apakah ini buah dari keterbatasan data dan fakta, sehingga lebih mudah menciptakan konsep abstrak ketimbang bersusah payah menjelaskan realitas yang kompleks? Atau barangkali, ini memang cara paling manusiawi untuk bercerita—menyederhanakan dunia agar bisa dipahami lewat tokoh dan simbol.
Atau mungkin, inilah kenyataan paling dalam dari kehidupan manusia sejak berabad-abad lalu: kita lebih mudah mempercayai realitas intersubjektif—yang hidup di kepala banyak orang—ketimbang realitas yang dingin, berbasis data dan fakta. Data sering kali tak ramah pada harapan. Ia kerap tak sejalan dengan emosi, prasangka, atau ekspektasi. Maka, imajinasi menawarkan jalan pintas: menciptakan realitas baru yang terasa lebih masuk akal, lebih nyaman, dan lebih bisa diceritakan.
Sebagian orang memahami ini dengan sangat baik. Mereka tahu bahwa salah satu kelemahan—atau justru kekuatan—manusia adalah pengulangan. Ketika sesuatu yang abstrak diulang terus-menerus, perlahan ia mengeras menjadi keyakinan. Dari keyakinan, ia menjelma realitas. Bukan karena ia terbukti, melainkan karena ia dipercaya.
Dan di titik itulah kita berdiri hari ini. Dalam dunia yang dipenuhi istilah-istilah abstrak yang telah berubah menjadi kenyataan sosial. Hantu-hantu konseptual yang tak kasatmata, namun pengaruhnya terasa nyata—menggerakkan emosi, membentuk opini, bahkan menentukan arah percakapan publik.