Simulasi batin
-(Jumat, 13 Februari 2026)-
Pukul 04.50 saya duduk di dalam kereta yang berhenti di Stasiun Kutoarjo. Dari balik kaca jendela—yang sebenarnya bukan jendela dalam pengertian biasa, karena tak bisa dibuka dan hanya boleh dipecahkan dalam keadaan darurat—terbaca jelas sebuah tulisan: Kutoarjo +16M. Entah kenapa, tulisan itu terasa seperti penanda: bukan sekadar jarak, melainkan jeda.
Beberapa saat sebelum kereta berhenti, saya berada dalam posisi duduk, menunaikan salat Subuh. Beberapa jam sebelumnya—bahkan sebelum saya naik kereta—kepala saya sudah sibuk menyusun rencana, membuat bayangan, dan memutar simulasi tentang satu hal yang tampaknya sepele: bagaimana saya akan berwudhu sebelum sholat subuh itu.
Begini masalahnya. Dalam perjalanan tiga hari itu, saya mengenakan sepatu dan tidak membawa sandal cadangan. Lalu, bagaimana nanti ketika harus berwudhu di kereta?
Orang mungkin akan dengan ringan berkata, “Tayamum saja, kan sedang di perjalanan.” Masuk akal. Apalagi di dalam kereta. Tetapi faktanya, toilet menyediakan air. Dan di titik itu, batin saya berbisik: kalau bisa berwudhu, mengapa harus tayamum?
Masalah berikutnya muncul. Sepatu saya. Apakah harus dilepas? Ataukah cukup mengusapnya saja saat berwudhu? Secara fikih, mengusap sepatu jelas diperbolehkan. Namun sekali lagi, hati saya memilih jalur yang lebih merepotkan: saya ingin berwudhu seperti biasa, membasuh kaki.
Lalu persoalan teknis pun bermunculan seperti cabang-cabang pikiran yang tak sabar menuntut jawaban. Melepas sepatu di toilet berisiko membuatnya basah. Melepas sepatu di kursi berarti saya harus berjalan tanpa alas kaki setelah wudhu—dan itu membuka kemungkinan bersentuhan dengan sesuatu yang najis. Semua opsi terasa kurang ideal.
Dari situ, satu alternatif tampak paling masuk akal: saya harus membawa sandal cadangan. Skemanya sederhana. Sepatu dilepas di tempat duduk, sandal dipakai ke toilet, wudhu dilakukan dengan tenang, lalu kembali mengenakan sepatu. Rapi, bersih, dan masuk akal.
Masalahnya tinggal satu: sandal itu dari mana?
Apakah saya harus membeli sandal baru? Rasanya tidak. Bukan karena mahal, tapi karena itu bukan solusi yang elegan. Bagi saya, solusi cerdas adalah solusi yang efektif, efisien, dan tidak berlebihan. Dan justru di titik kebuntuan itu, ide muncul begitu saja.
Saat masih di hotel, mata saya menangkap sepasang sandal hotel—sandal yang memang disediakan untuk tamu, dan boleh dibawa pulang. Di sanalah semuanya seperti menemukan tempatnya. Masalah yang sejak awal berputar-putar di kepala, tiba-tiba selesai hanya dengan satu keputusan kecil.
Akhirnya, seluruh urusan tentang wudhu pun beres.
Yang menarik bagi saya bukan sekadar solusi itu sendiri, melainkan proses mental di baliknya. Pikiran saya rupanya telah bekerja seperti sebuah laboratorium kecil: mensimulasikan masa depan, memprediksi skenario, menguji kemungkinan, lalu mencari jalan keluar. Imajinasi, dalam hal ini, bukan lamunan kosong. Ia adalah alat prediksi. Dan dalam kasus ini, prediksi itu benar-benar menjadi kenyataan.
Barangkali begitulah cara otak manusia bekerja. Ia membangun masa depan terlebih dahulu di dalam kepala, sebelum kenyataan menyusul dari belakang. Imajinasi adalah draf awal kehidupan.
Lalu sebuah pertanyaan pun muncul, pelan tapi mengusik: jika dengan cara yang sama saya berimajinasi tentang tinggal di Bali—membayangkannya dengan detail, merasakan kemungkinan-kemungkinannya—apakah itu juga hanya soal waktu sebelum ia menjelma nyata?
Seperti wudhu di kereta, mungkin yang dibutuhkan hanyalah satu "sandal kecil" yang tepat. Yang jika disingkat menjadi: SK.