Sisi gelap
-(Sabtu, 30 Agustus 2025)-
Mengapa manusia lahir dengan menyandang satu sisi gelap yang bernama kemarahan?
Platon pernah membuat sebuah alegori tentang diri manusia. Ia menggambarkannya sebagai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda: hitam dan putih, dengan seorang kusir sebagai pengendalinya. Dua kuda itu sering kali ingin berlari ke arah yang berbeda.
Kuda putih barangkali berada di sisi kanan, lebih mudah diarahkan, dan melambangkan sifat-sifat baik manusia: akal sehat, welas asih, empati, dan dorongan untuk menolong. Sementara itu, kuda hitam mungkin berada di sisi kiri, cenderung liar, sulit dikendalikan, dan mewakili sisi gelap manusia: nafsu, kemarahan, kecemasan, kekecewaan, hingga ketakutan.
Tugas kusir adalah menjaga keseimbangan keduanya agar kereta dapat melaju dengan baik menuju tujuan. Namun, jika kuda hitam terlalu dominan, kereta akan berjalan tak tentu arah, bahkan bisa terbalik.
Demikian pula pada manusia: ketika kemarahan menguasai, akal sehat kehilangan perannya. Segala keputusan dan tindakan lalu dikendalikan oleh emosi, bukan lagi oleh rasio.
Sejarah manusia menunjukkan banyak peristiwa besar—perang, kekacauan, hingga tragedi kemanusiaan—yang berawal dari kemarahan. Kemarahan itu sendiri bisa dipicu oleh berbagai faktor: ketidakadilan, kekecewaan, rasa terancam, atau dorongan nafsu yang tak terkendali.
Menyadari bahwa manusia memang memiliki sisi gelap, maka agama, norma, dan hukum hadir sebagai pengendali. Ketiganya berfungsi melindungi manusia dari kerugian akibat perilaku yang lahir dari kemarahan. Agama bahkan berperan preventif: mengajarkan kesabaran, menanamkan kesadaran diri, dan menuntun manusia untuk memadamkan api kemarahan sebelum sempat menyala.
Kita tentu ingat satu pesan sederhana namun dalam: lā taghdhab wa laka al-jannah—“jangan marah, bagimu surga.” Pesan Nabi SAW ini bukan sekadar larangan, melainkan ajakan agar manusia menjadi kusir yang bijak: mampu mengendalikan kuda hitam tanpa mematikannya, dan tetap menuntun kereta hidup menuju tujuan yang benar.