Sandiwara radio
-(Kamis, 30 April 2026)- YouTube memang bisa menyajikan apa saja—termasuk sesuatu yang pernah saya kira telah tenggelam bersama waktu: sandiwara radio jadul. Belakangan ini saya kembali mendengarkannya, dan setiap kali suara pembuka itu terdengar, rasanya seperti membuka pintu menuju masa silam. Saya tidak hanya sedang bernostalgia pada sebuah bentuk hiburan lama, tetapi juga sedang menemukan kembali satu kenikmatan yang perlahan hilang di zaman serba visual: kebebasan untuk berimajinasi. Saat mendengarkan sandiwara radio, saya merasa pikiran saya bekerja dengan cara yang berbeda. Dialog para tokoh, efek suara, dan narasi pembawa cerita hanya memberi kerangka—sementara detail peristiwa sepenuhnya dibangun oleh imajinasi saya sendiri. Wajah tokoh, suasana kerajaan, bunyi langkah kaki di lorong istana, bahkan ekspresi kemarahan atau kesedihan para tokohnya, semua lahir dari ruang batin yang sangat personal. Berbeda dengan film yang menyajikan adegan secara utuh dan nyaris final, sandiwar...