Pemimpin sekolah

-(Kamis, 2 April 2026)-

Ia telah lama berkorban untuk saya—bahkan hingga pada titik ketika kariernya sendiri ia kesampingkan demi perjalanan saya. Dalam diam, ia berjalan di belakang, memastikan langkah saya tetap utuh. Dan justru dari sanalah, perlahan tumbuh kesadaran: ia tidak seharusnya terus hidup sebagai perpanjangan dari diri saya. Ia berhak menjadi dirinya sendiri, utuh, berdiri di atas kakinya sendiri.

Ada martabat yang mesti ia capai—bukan sebagai pembanding, melainkan sebagai pemenuhan atas potensi yang selama ini tertunda. Karena itu, saya mendorongnya untuk menerima amanah itu. Bukan sekadar posisi, melainkan pengalaman eksistensial: duduk di kursi kepemimpinan, merasakan denyut tanggung jawab, dan memahami makna pencapaian yang selama ini mungkin hanya ia saksikan dari kejauhan. Sebuah rasa yang pernah saya kenal—dan diam-diam saya ingin ia juga menjalaninya.

Mungkin benar, ada serpihan ego yang ikut terpenuhi. Namun, itu bukan pusatnya. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kepuasan pribadi. Ada misi yang kami yakini bersama—nilai-nilai keluarga yang ingin kami hidupkan, bukan hanya di ruang privat, tetapi juga di tengah masyarakat. Pendidikan menjadi jalannya. Dan melalui perannya sebagai pemimpin di sekolah itu, ia memiliki ruang untuk menyalakan lebih banyak cahaya.

Keresahan kami sederhana, namun mendasar. Tentang disiplin yang kerap terabaikan—dari hal kecil seperti kebersihan dan budaya antre, hingga cara kita memaknai hidup bersama. Tentang gaya hidup dan pola makan yang membentuk generasi tanpa disadari. Dan, tentu saja, tentang pendidikan itu sendiri—bagaimana ia seharusnya tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menginspirasi; tidak hanya mengajar, tetapi juga menumbuhkan harapan.

Pelantikan hari ini menjadi semacam simpul dari perjalanan panjang yang tak selalu terlihat. Saat ia berdiri di sana, menerima amanah itu, ada rasa haru yang sulit dijelaskan—seperti napas yang akhirnya kembali utuh. Saya merasa lega. Seolah ada utang batin yang perlahan terbayarkan, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kesempatan yang akhirnya sampai ke tangannya.

Jika selama ini kisah ini banyak berkisar tentang saya, mungkin kini waktunya bergeser. Memberi ruang bagi ceritanya untuk tumbuh. Karena pada akhirnya, cinta yang matang bukan lagi tentang siapa yang lebih dulu sampai, melainkan tentang siapa yang kita izinkan untuk benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"