Episode diam

-(Jumat, 3 April 2026)-

Kenyataannya, saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih sulit dari sekadar sistem atau struktur: ego saya sendiri. Ia terlalu tebal untuk sekadar mengalah, terlalu bising untuk menerima realitas apa adanya. Di titik ini, misi awal saya—membawa birokrasi menuju apa yang saya sebut sebagai birokrasi berdampak—mulai terasa seperti ideal yang menggantung, indah dalam gagasan, namun berat dalam kenyataan.

Perlahan, muncul godaan yang lebih tenang: kembali ke zona nyaman. Sebuah ruang tanpa riak, tanpa tuntutan untuk melampaui batas. Di sana, saya tak perlu melakukan terobosan, tak perlu memaksakan perubahan. Karena pada akhirnya, yang sering kali dinilai bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa lama kita bertahan, atau seberapa dikenal kita di mata otoritas. Sebuah ukuran yang terasa asing bagi semangat awal, namun justru nyata dalam praktik.

Maka, untuk sementara, saya mempertimbangkan pilihan yang sebelumnya terasa seperti kekalahan: berdiam diri. Bukan dalam arti menyerah sepenuhnya, melainkan menahan diri dari dorongan untuk selalu proaktif. Saya akan tetap merespons apa yang perlu direspons, tetapi tanpa ambisi untuk terus menginisiasi. Seolah saya menarik diri selangkah, memberi jarak antara diri saya dan medan yang selama ini saya coba ubah.

Barangkali, di fase ini, saya juga ingin kembali menjadi pribadi yang lebih utuh—bukan sekadar peran atau fungsi dalam sistem. Sebuah upaya untuk mengingat kembali siapa saya di luar semua tuntutan itu.

Namun, bahkan keputusan ini pun belum sepenuhnya saya yakini. Ia terasa seperti jeda yang rapuh—antara keberanian untuk melanjutkan dan kelelahan untuk berhenti. Mungkin benar, ini hanyalah periode diam. Sebuah ruang hening yang belum tentu berarti akhir, tetapi bisa jadi adalah cara lain untuk mendengar ulang arah langkah saya sendiri.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"