Tema abadi

-(Jumat, 25 Juli 2025)-

Kenyataannya, saya mulai kehabisan ide untuk menulis. Tentu, menulis setiap hari itu butuh bahan bakar yang melimpah. Ada banyak hal yang terbersit ingin saya tuliskan, tetapi rasanya tak mungkin diwujudkan, mengingat asas kepatutan dan kepantasan yang melekat pada diri saya saat ini.

Kehabisan ide ini barangkali mirip dengan apa yang terjadi pada pemberitaan belakangan ini—yang itu-itu saja. Anda sudah tahu maksud saya: topik yang terus diulang-ulang. Saya punya dugaan mengapa begitu. Yang ternyata dugaan saya itu sama dengan informasi yang disampaikan oleh seorang tokoh dalam satu podcast. Tokoh ini bilang bahwa para konten kreator, kini mulai kebingungan mau mengangkat topik baru apa. Nampaknya masyarakat sudah mulai bosan dengan topik-topik lain, dan yang masih tetap menarik serta membuat penonton bertahan adalah ya… soal itu terus. Anda tentu paham maksud saya.

Artinya, alasan kenapa berita atau topik itu terus diangkat salah satunya adalah dorongan untuk mengejar jumlah penonton. Semakin banyak penonton, semakin besar potensi cuan, pengaruh, dan atensi publik. Siklusnya berputar di sana—sebuah lingkaran yang menahan kita di tema yang sama.

Padahal, sebenarnya masih banyak berita lain atau topik lain yang lebih menyangkut hajat hidup orang banyak. Isu pangan, pendidikan, ketenagakerjaan, atau perubahan iklim—semuanya kerap kalah menarik dibandingkan satu dua drama politik atau konflik personal yang disajikan bak tontonan serial bersambung.

Atau, barangkali justru di sinilah letak persoalannya. Boleh jadi, topik itu memang paling sesuai dengan nature otak manusia. Otak kita memang senang melihat pertarungan, konflik, dan drama. Kita senang melihat jagoan bertarung hingga menang, dan musuhnya kalah telak di depan mata. Itulah kenapa kita betah menonton film aksi, laga, atau seri thriller yang menampilkan bagaimana tokoh utama menaklukkan lawannya dengan segala cara.

Kalau benar demikian—bahwa hal semacam ini memang sesuai dengan sifat dasar otak kita—nampaknya kita akan terus melihat pertarungan-pertarungan di babak baru berikutnya. Konflik demi konflik akan tetap dijual karena selalu ada penonton yang menunggu babak lanjutannya. Dan kita, dengan berbagai peran masing-masing, barangkali hanya bisa memilih: tetap larut di dalamnya, atau mulai mencari bahan bakar baru untuk mengangkat hal lain, meski harus berpayah-payah menembus kebosanan penonton.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"