Pagi kompetisi

-(Minggu, 20 Juli 2025)-

Ketika saya jalan pagi, setelah dua bulan absen, saya kembali melewati jalur itu. Ada beberapa sudut dengan pemandangan baru. Terutama di pinggir jalan, saya melihat beberapa UMKM menjajakan makanan. Sepertinya menu sarapan dengan harga yang relatif terjangkau, sepuluh ribu rupiah per porsi.

Menariknya, bukan hanya satu tempat. Ada beberapa. Saya sempat melihat spanduk bertuliskan nasi uduk khas (nama kota) dengan harga sepuluh ribu. Tidak jauh dari situ, ada pula yang menjual nasi bento, dengan harga yang sama. Beberapa meter kemudian ada nasi kepal, harganya malah hanya lima ribu rupiah.

Ini tentu menjadi pilihan warga, terutama yang ingin sarapan cepat sebelum beraktivitas. Di sisi lain, saya membayangkan bagaimana dengan warung-warung lama yang menjual nasi kuning, lontong sayur, atau menu sarapan lain dengan harga sedikit lebih tinggi. 

Semoga saja kehadiran penjual baru ini tidak menggeser rezeki mereka. Saya percaya masih ada pelanggan yang setia dengan nasi kuning atau lontong sayur langganan, meski harganya lebih mahal.

Bagaimanapun, persaingan seperti ini tampaknya tidak bisa dihindari. Agar tetap bisa eksis, barangkali bisa diantisipasi dengan cara sederhana—misalnya tetap menjaga rasa, kebersihan, atau pelayanan. Toh, banyak orang memilih warung bukan hanya karena harga, tapi juga karena rasa dan kebiasaan.

Saat ini, nampaknya menjual makanan dan minuman memang masih jadi pilihan banyak orang ketika memulai usaha, apalagi di perkotaan. Tapi saya membayangkan, tidak selalu mudah. Ada yang sudah lebih dulu punya pelanggan tetap. Ada pula yang baru mencoba peruntungan. Sebagian bisa bertahan lama, sebagian lagi mungkin pelan-pelan hilang.

Begitulah dunia usaha, barangkali. Penuh persaingan, penuh kemungkinan. Siapa pun yang terjun di dalamnya, mau tak mau harus memikirkan cara agar tetap bertahan.

Dan pagi hari menjadi salah satu cerminnya. Bahwa bahkan di pinggir jalan, orang-orang sudah mulai berlomba sejak matahari belum tinggi.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"