Sabar menanti
-(Senin, 21 Juli 2025)-
Dalam film The Jackal, diceritakan bagaimana seorang sniper bayaran begitu sabar menunggu target sasarannya. Ia bisa berdiam diri di satu tempat berjam-jam, bahkan berhari-hari, demi memastikan rencananya berjalan sempurna. Dalam banyak kesempatan, justru kesabaran itulah yang membuatnya berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, tanpa cela. Ia tidak gegabah, tidak tergesa-gesa, dan tidak membiarkan emosi menguasainya.
Kisah berbeda muncul dalam sebuah film lain berjudul Sew Torn, tentang seorang penjahit wanita. Suatu hari, karena tidak sabar menahan emosi dan egonya ketika menghadapi pelanggan yang cerewet, ia sengaja menjatuhkan kancing baju ke dalam lubang ventilasi. Akibatnya, ia terpaksa pulang untuk mengambil kancing pengganti. Di perjalanan pulang itulah nasib buruk menunggunya: ia bertemu dua orang yang memperebutkan koper berisi uang, yang pada akhirnya membuat hidupnya berakhir tragis.
Namun, film itu juga menampilkan alur cerita alternatif. Dalam satu bagian terakhir film itu, diceritakan bagaimana jika sang penjahit mampu menahan diri, bersabar, dan meredam amarahnya. Ia memilih tetap tenang meski diomeli pelanggan, dan tidak menjatuhkan kancing baju ke dalam lubang ventilasi. Alhasil, ia tidak perlu pulang untuk mengambil kancing lain. Setelah urusan dengan pelanggan selesai, ia pun pulang dengan tenang. Di perjalanan, bukannya bertemu dengan dua orang yang berkelahi itu, ia justru bertemu seorang pria asing yang hanya bertanya arah jalan. Karena jawaban dan kesediaannya membantu, sang penjahit malah diberi imbalan beberapa gepok uang. Kesabarannya mendatangkan keselamatan sekaligus keberuntungan.
Cerita-cerita seperti ini, meski fiktif, mengandung pelajaran sederhana: betapa besar dampak dari sebuah keputusan kecil—terutama ketika emosi dan kesabaran diuji. Kadang satu tindakan impulsif memicu bencana, sebaliknya satu tindakan sabar bisa membuka pintu keselamatan, bahkan rezeki.
Dalam kehidupan nyata, kita pun sering dihadapkan pada situasi serupa, misalnya saat berkendara dan terjebak di palang pintu kereta api. Tidak ada yang suka menunggu kereta lewat, apalagi jika sedang terburu-buru. Namun, dalam situasi seperti itu, tak ada pilihan lain selain bersabar. Kita tahu, memaksa menerobos hanya akan mengundang bencana. Sudah banyak kejadian tragis yang membuktikan betapa mahalnya harga sebuah ketergesaan.
Begitulah, kadang hidup memang tidak menawarkan banyak pilihan. Satu-satunya jalan adalah bersabar, meski sering terasa berat. Namun, justru di situlah letak hikmahnya: sabar adalah penyangga keselamatan, penjaga akal sehat, dan penuntun kita untuk tidak membuat keputusan gegabah. Kesabaran tidak selalu mudah, tapi sering kali berakhir manis.
Maka, ketika kesempatan menunggu datang, anggaplah itu sebagai ruang untuk melatih hati. Mungkin saja, di balik penantian itu, Tuhan sedang menyiapkan hadiah yang jauh lebih indah daripada apa yang kita harapkan.