Jejak sunyi
-(Minggu, 27 Juli 2025)-
Jalan setapak. Namun kenyataannya, bukan hanya tapak kaki yang menelusuri jalur sempit itu. Ada pula roda-roda sepeda motor yang melintas tergesa—barangkali ingin menyingkat waktu, menembus jeda, menuju suatu tujuan yang entah seberapa gentingnya.
Jalan setapak selepas hujan lebat semalam tak lagi terkurung dalam keheningan. Ada suara kodok bersahutan dari balik semak, seolah merayakan limpahan air sebagai berkah yang turun dari langit. Alam pun tahu bagaimana cara mensyukuri, bahkan dalam kebisingan yang sederhana.
Jalan setapak yang kiri-kanannya dilingkupi tumbuhan hijau itu terasa semakin sejuk selepas hujan. Air menempel di ujung daun, aroma tanah basah naik perlahan dari sela kerikil. Di sisi kiri dan kanan, air tergenang di bawah rimbunnya semak belukar. Mungkin aliran itu tertahan oleh dedaunan gugur. Atau barangkali karena tanah yang cekung dan tak lagi menyediakan jalan bagi air untuk mengalir. Seperti hidup yang kadang tersendat karena hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk.
Jalan setapak yang masih berupa tanah, kerikil, dan bebatuan itu bukanlah jalan alami. Ia ada karena tangan-tangan manusia. Namun oleh tangan yang sama, ia juga sering kali diabaikan dan dikotori. Di beberapa bagiannya, terlihat sampah plastik rumah tangga, menyisip di antara ilalang dan lumpur. Di genangan airnya mengapung botol-botol plastik dari tangan-tangan tak bertanggung jawab—seolah bumi tak lebih dari tempat pembuangan.
Jalan setapak itu seakan menjadi saksi bisu atas pagi yang perlahan merangkak naik. Ia menyaksikan mentari mulai terbit dari balik pucuk pohon, menyinari dunia dengan sinar hangat yang tak pernah pilih kasih. Memberi manfaat bagi semesta, meski semesta tak selalu membalasnya dengan hormat.
Dan mungkin, jalan itu tidak hanya mengantarkan kita ke tempat yang ingin dituju. Ia juga mengajarkan—tentang diam yang sabar, tentang luka yang tak membalas, tentang menerima segala beban tanpa kehilangan makna.
Ia adalah jalan yang dicipta manusia, tapi menyimpan jiwa alam. Ia adalah jalan yang dilewati begitu saja, tapi menyimpan jejak dari apa yang kita tinggalkan.
Ia bukan sekadar jalur sempit.
Ia adalah jejak sunyi yang terus bicara, bahkan ketika kita terlalu sibuk untuk mendengarkan.