Ragam kekonyolan

-(Rabu, 1 April 2026)-

Bandara Sultan Hasanuddin, dalam lanskap Indonesia, barangkali hanya berada selangkah di bawah Bandara Soekarno-Hatta dalam hal skala dan denyut aktivitas. Sebagai seseorang yang pernah menjejakkan kaki di berbagai bandara di nusantara, saya merasa cukup punya ukuran untuk membandingkan satu dengan yang lain—meski tentu, ukuran itu selalu subjektif.

Dan oleh semacam takdir yang tak perlu dijelaskan, saya kembali ke Makassar, menapakkan kaki di bandara itu lagi.

Sore itu, ruang tunggu dipenuhi wajah-wajah gelisah. Jadwal keberangkatan telah tertunda hampir satu jam. Alasan yang sama, yang sering terdengar: cuaca. Maskapai tak memberi kepastian, hanya jeda yang terus memanjang. Orang-orang duduk, berdiri, menghela napas, sesekali menatap layar informasi seolah berharap ada keajaiban yang muncul dalam bentuk angka waktu.

Kursi-kursi penuh. Padahal, di ruang tunggu lain masih ada tempat kosong. Namun ketidakpastian rupanya lebih menakutkan daripada ketidaknyamanan. Mereka memilih bertahan di tempat semula—dekat dengan kemungkinan mendengar pengumuman—ketimbang mengambil risiko kecil yang bisa berujung pada kekonyolan besar: tertinggal pesawat setelah menunggu lama.

Ironisnya, kekonyolan semacam itu bukanlah sesuatu yang asing. Justru ia sering hadir dalam bentuk yang lebih halus dan lebih luas.

Kita hidup di tengah orang-orang yang merasa dirinya penting—dan barangkali memang demikian. Namun perasaan itu kerap menjelma menjadi ketidaksabaran: dalam antrean, dalam penantian, dalam hal-hal kecil yang seharusnya menguji ketahanan batin, bukan ego. Kita ingin segalanya segera, padahal dunia tidak pernah benar-benar bekerja dengan ritme keinginan kita.

Di sisi lain, kekonyolan juga menjelma dalam bentuk yang lebih sistemik. Birokrasi yang lamban merespons perubahan, misalnya. Ketika sebuah struktur sudah tak lagi relevan dengan zaman, yang terjadi bukanlah pembaruan yang tegas, melainkan tambal sulam yang canggung. Seperti bangunan tua yang terus dipertahankan tanpa pernah benar-benar direnovasi—ia tetap berdiri, tetapi kehilangan fungsinya.

Kembali ke ruang tunggu itu, saya menyadari: mungkin memang tidak ada hubungan langsung antara penundaan penerbangan dan absurditas manusia. Namun di ruang-ruang seperti itulah, kita sering melihatnya dengan lebih jelas—tanpa filter.

Termasuk dalam cara maskapai menyampaikan permintaan maaf. Kalimat-kalimat itu terdengar sopan, terstruktur, bahkan mungkin tulus. Namun di baliknya, ada kenyataan yang sulit diabaikan: para penumpang tak memiliki daya tawar. Mereka hanya bisa menunggu. Menerima. Mengeluh dalam hati.

Dan di situlah, kekonyolan itu menemukan bentuknya yang paling sederhana—dan mungkin paling jujur.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"