Sandiwara radio

-(Kamis, 30 April 2026)-

YouTube memang bisa menyajikan apa saja—termasuk sesuatu yang pernah saya kira telah tenggelam bersama waktu: sandiwara radio jadul. Belakangan ini saya kembali mendengarkannya, dan setiap kali suara pembuka itu terdengar, rasanya seperti membuka pintu menuju masa silam. Saya tidak hanya sedang bernostalgia pada sebuah bentuk hiburan lama, tetapi juga sedang menemukan kembali satu kenikmatan yang perlahan hilang di zaman serba visual: kebebasan untuk berimajinasi.

Saat mendengarkan sandiwara radio, saya merasa pikiran saya bekerja dengan cara yang berbeda. Dialog para tokoh, efek suara, dan narasi pembawa cerita hanya memberi kerangka—sementara detail peristiwa sepenuhnya dibangun oleh imajinasi saya sendiri. Wajah tokoh, suasana kerajaan, bunyi langkah kaki di lorong istana, bahkan ekspresi kemarahan atau kesedihan para tokohnya, semua lahir dari ruang batin yang sangat personal. Berbeda dengan film yang menyajikan adegan secara utuh dan nyaris final, sandiwara radio justru memberi ruang kosong yang bisa kita isi sendiri. Ia seperti kanvas yang tidak pernah benar-benar selesai dilukis.

Mungkin di situlah letak daya tariknya. Saya bebas memilih bentuk dunia yang ingin saya lihat di kepala saya sendiri—berdasarkan pengalaman hidup, ingatan, dan imajinasi yang saya miliki. Mendengarkan cerita terasa seperti membaca novel, tetapi tanpa harus menatap halaman demi halaman. Seolah ada seseorang yang dengan sabar membacakan kisah itu kepada saya, sementara saya tinggal membiarkan pikiran berkelana ke mana saja.

Ada kenikmatan lain yang terasa sangat sederhana, tetapi justru penting di tengah kebiasaan kita menatap layar tanpa jeda. Mendengarkan sandiwara radio tidak menuntut kerja mata. Saya tidak perlu terus-menerus menatap ponsel atau memegangnya hingga tangan pegal. Saya bisa rebahan, memejamkan mata, meletakkan ponsel di samping telinga, lalu membiarkan suara-suara itu menjadi pengantar tidur. Di tengah dunia yang terlalu bising secara visual, pengalaman ini terasa seperti memberi mata haknya untuk beristirahat.

Lebih jauh lagi, saya merasa kebiasaan ini diam-diam melatih sesuatu yang mulai langka: kemampuan untuk mendengarkan. Ketika banyak orang berlomba-lomba untuk berbicara, tampil, dan didengar, saya justru menemukan ketenangan dalam posisi sebaliknya. Dari dialog para tokoh dan narasi pencerita, saya belajar tentang pilihan kata, intonasi, ritme bercerita, bahkan cara emosi disampaikan hanya lewat suara. Tanpa saya sadari, ini menjadi bentuk belajar yang menyenangkan.

Mungkin semua ini terdengar seperti romantisasi hiburan masa lalu. Bisa jadi memang demikian. Mungkin saya hanya sedang merindukan sesuatu yang pernah akrab pada zamannya. Namun bukankah nostalgia juga punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan hal-hal yang masih relevan hari ini?

Dan akhir-akhir ini, ada satu kisah yang terus menemani malam-malam saya: cerita tentang Kerajaan Singasari di awal keruntuhannya. Intrik kekuasaan, pengkhianatan, ambisi, dan aroma kehancuran perlahan memenuhi imajinasi saya sebelum tidur.

Saya belum ingin menyebutkan judulnya secara gamblang. Tapi dengan kata kunci Singasari, barangkali Anda sudah bisa menebaknya.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"