Asongan kapal
-(Selasa, 7 April 2026)-
Pedagang asongan adalah fragmen kecil dari realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Mereka masih ada—hidup dan bergerak—di terminal dan pelabuhan. Dulu, pemandangan ini juga lazim di stasiun dan kereta api. Namun, kebijakan yang tegas perlahan menyingkirkan mereka dari ruang itu. Kini, jejak mereka tersisa di dua simpul perjalanan: terminal dan pelabuhan, bahkan kadang ikut menumpang bus atau kapal untuk rute-rute pendek, menjajakan harapan dalam bentuk makanan dan minuman sederhana.
Mereka bukan produsen, melainkan perantara. Reseller dari barang yang bisa kita temukan dengan mudah di toko. Namun, di ruang transit yang serba sementara, harga menjadi lentur—bahkan bisa melambung berkali lipat. Di balik itu, ada logika bertahan hidup yang tidak selalu bisa kita ukur dengan standar kewajaran pasar. Ada keluarga yang perlu makan, ada hari esok yang harus diusahakan. Di sana, harga bukan sekadar angka, tetapi strategi untuk tetap hidup.
Meski keberadaan mereka sering dianggap “tidak pada tempatnya”, hukum pasar tetap bekerja tanpa kompromi. Mereka bertahan karena ada yang membeli. Ada penumpang yang tergoda, atau mungkin terdesak oleh kebutuhan karena tidak sempat menyiapkan bekal. Dalam ruang yang serba cepat itu, keputusan menjadi instan—dan pedagang asongan hadir sebagai jawaban paling dekat.
Jika dihitung, mungkin jumlah mereka mencapai ribuan. Pertanyaannya: apakah mereka pernah benar-benar masuk dalam hitungan negara? Apakah ada upaya serius untuk memahami, apalagi menata keberadaan mereka? Bisa jadi ada, namun tak terlihat sebagai kebijakan yang utuh. Mungkin pengaturannya bersifat lokal, diserahkan pada otoritas masing-masing terminal atau pelabuhan. Namun, gambaran besarnya tetap kabur.
Saya menyadari keberadaan mereka kembali saat menempuh perjalanan sekitar 5-6 jam. Mengamati satu per satu, saya seperti ditarik ke masa lalu—ke masa ketika pemandangan ini adalah hal biasa. Ada rasa kaget, sekaligus getir, ketika menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berpindah ruang, menunggu di celah yang belum tersentuh kebijakan.
Ini bukan soal menyalahkan. Persoalannya terlalu kompleks untuk disederhanakan. Namun, kenyataan ini memantik pertanyaan yang lebih dalam: ke mana arah visi besar negeri ini, ketika di sisi lain realitas seperti ini tetap bertahan? Di tengah mimpi tentang “negeri emas”, ada wajah-wajah yang terus berjuang di pinggiran sistem—tanpa kepastian, tanpa perlindungan yang jelas.
Barangkali, di situlah ironi itu bersemayam: antara ambisi yang melangit dan kenyataan yang tetap membumi.