Jenuh medsos
-(Senin, 27 April 2026)-
Barangkali saya memang sudah sampai di titik jenuh dengan media sosial. Rasanya tidak lagi seperti dulu. Ada sesuatu yang berubah—bukan hanya pada saya, tetapi juga pada cara media sosial bekerja. Kini, timeline terasa seperti ruang yang bukan lagi milik saya sepenuhnya. Ia dipenuhi suara-suara asing yang datang tanpa diundang, seolah saya dipaksa duduk dan mendengarkan percakapan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal, apalagi saya pedulikan.
Dulu, kita bisa memilih. Ada semacam kendali, meski sederhana. Sekarang, pilihan itu terasa kabur. Saya bisa membisukan satu akun, tetapi segera muncul akun lain dengan pola yang sama: opini yang tak saya cari, sudut pandang yang tak saya minta. Seperti keran yang bocor, tak pernah benar-benar bisa ditutup. Di titik itulah, ada sesuatu dalam diri saya yang menolak—barangkali itu ego, atau mungkin sekadar naluri menjaga kewarasan. Mengapa saya harus memberi ruang bagi suara-suara yang tidak saya pilih? Mengapa saya harus membiarkan pikiran saya diisi oleh hal-hal yang bahkan tidak saya inginkan?
Ada perasaan halus, nyaris tak terlihat, bahwa batas antara ruang pribadi dan ruang publik mulai terkikis. Seolah-olah, siapa pun berhak masuk dan berbicara di dalam kepala kita. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Tidak semua hal perlu saya dengar. Tidak semua opini perlu saya timbang. Ada nilai dalam menyaring, dalam memilih, dalam mengatakan: ini bukan untuk saya.
Namun, di tengah mekanisme media sosial yang semakin agresif dan tak kenal lelah, menyaring menjadi pekerjaan yang melelahkan. Energi habis bukan untuk memahami, tetapi untuk menepis. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan pada kemampuan saya untuk menyaring, tetapi pada medan yang memang tidak memberi ruang untuk itu.
Maka pilihan paling sederhana sekaligus paling radikal muncul: berhenti. Menutup aplikasi, bahkan menghapusnya dari perangkat yang setiap hari saya genggam. Bukan sebagai bentuk pelarian, tetapi sebagai upaya merebut kembali kendali atas apa yang saya konsumsi, atas apa yang saya izinkan masuk ke dalam pikiran.
Lagipula, jika diperhatikan lebih dalam, banyak dari percakapan di sana bergerak dalam frekuensi yang sama—penuh kecurigaan, tuduhan, opini yang tajam tetapi sering kali kehilangan kedalaman. Ada fitnah yang berbalut keyakinan, ada pendapat yang lebih mirip serangan, dan ada balasan yang tak kalah kerasnya. Semuanya saling bersahutan, seperti kebisingan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di tengah riuh itu, saya merasa lelah. Bukan hanya lelah membaca, tetapi lelah menjadi bagian dari arus yang terus bergerak tanpa arah yang jelas. Dan di situlah saya mulai merindukan sesuatu yang sederhana: keheningan.
Keheningan yang tidak menuntut, tidak memaksa, tidak menyusup diam-diam ke dalam pikiran. Keheningan yang memberi ruang untuk bernapas, untuk kembali mendengar suara sendiri.
Dan saya menyadari, keheningan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Ia harus dipilih. Kadang, dengan cara yang sesederhana berhenti menggulir layar.