Senja sarabba

-(Jumat, 24 April 2026)-

Sore di pinggir teluk itu perlahan berubah rupa. Cahaya yang menurun seperti memberi isyarat bahwa malam minggu akan segera mengambil alih—membawa serta riuh musik dari warung dan kafe tenda yang mulai bersiap. Para pelaku usaha tampak sibuk menegakkan tenda, menata meja, dan menyusun bantal lesehan dengan ketelitian yang hampir seremonial. Di beberapa sudut, musik sudah diputar keras-keras, seolah ingin lebih dulu mengklaim malam yang belum sepenuhnya datang.

Saya berjalan menyusuri tepian teluk, membiarkan langkah mengikuti ritme suasana yang kian hidup. Angin laut berembus ringan, membawa aroma asin yang khas, berpadu dengan suara aktivitas manusia yang perlahan meningkat. Ada semacam peralihan yang terasa nyata—dari sunyi menuju hiruk-pikuk, dari kontemplasi menuju perayaan.

Langkah saya akhirnya kembali ke titik awal, tempat sebuah kafe terbuka berdiri di antara pepohonan rindang. Letaknya tepat di tepi laut, berhadapan dengan hutan bakau yang tampak tenang, nyaris seperti penjaga diam bagi perairan yang luas. Tempat itu terasa pas—tidak terlalu ramai, namun cukup hidup untuk membuat seseorang betah berlama-lama.

Sejak tiba di kota ini, saya belum sempat mencicipi minuman khasnya: sarabba. Maka sore itu, saya memutuskan untuk menebusnya. Saya memesan pisang dan singkong goreng terlebih dahulu, lalu memilih duduk. Tak lama, seorang pelayan datang dan menanyakan pilihan minuman. Saya menyebut sarabba. Ia sempat menawarkan beberapa variasi. Saya memilih yang biasa saja, mungkin karena saya lebih ingin bertemu dengan rasa yang sederhana, tanpa tambahan yang belum saya pahami.

Pesanan datang lebih cepat dari dugaan. Di hadapan saya kini terhidang gorengan hangat dengan sambal, serta segelas sarabba yang masih mengepul. Saya menyeruputnya perlahan. Hangatnya segera menyebar, bukan hanya di tubuh, tetapi juga di ingatan. Rasa itu tidak asing. Ia seperti pintu yang diam-diam terbuka, menghadirkan kembali kenangan puluhan tahun silam—tentang waktu dan tempat.

Ditemani pisang dan singkong goreng, saya duduk memandangi laut yang mulai meredup, hutan bakau yang tetap tenang, dan langit yang perlahan kehilangan warnanya. Di tengah riuh yang semakin mendekat, saya justru menemukan ruang sunyi yang intim—tempat kenangan dan kenyataan bertemu, saling menyapa tanpa perlu banyak kata.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"