Mesin birokrasi
-(Sabtu, 18 Oktober 2025)-
Percayalah, sekuat apa pun komitmen seorang pemimpin dalam melaksanakan program, sebrilian apa pun gagasan dan solusi yang ia tawarkan, semuanya akan berakhir sebagai omong kosong jika mesin birokrasi tidak berjalan dengan baik. Tanpa dukungan birokrasi yang solid dan efektif, visi besar hanya menjadi jargon, bukan gerak nyata.
Entah sudah berapa kali saya menulis tentang pentingnya memperhatikan “mesin” ini, karena di sinilah sesungguhnya letak kekuatan pemerintahan. Ketika birokrasi dibiarkan berjalan dengan cara lama, tanpa pembenahan, tanpa optimalisasi, maka yang terjadi adalah pemandangan ironis seperti laporan yang viral: pegawai berseragam duduk santai di kafe pada jam kerja.
Namun, ironi birokrasi tidak selalu tampak di ruang publik. Bisa jadi mereka berada di kantor, tetapi apa yang mereka kerjakan tak sejalan dengan visi pimpinannya. Menteri sudah tancap gas di gigi lima, sementara aparaturnya masih betah di gigi dua, atau malah gigi satu. Akibatnya, laju organisasi dan program tersendat: saat digenjot memang bergerak, tapi bising dan tak stabil; begitu tekanan dikendurkan, langsung melambat, bahkan nyaris berhenti.
Karena itu, seorang pemimpin yang visioner tidak cukup hanya sibuk meluncurkan program dan terobosan. Ia juga harus berani menengok ke dalam, memastikan mesin birokrasi yang menjadi penggerak visi itu benar-benar berfungsi. Tanpa sinkronisasi antara kepemimpinan dan birokrasi, setiap kebijakan hanya menjadi pertunjukan satu orang—one man show—yang cepat mengesankan, tapi tak berumur panjang.
Sekali lagi, percayalah: tanpa birokrasi yang efektif, sebaik apa pun programnya, hanya akan berakhir sebagai blunder. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya kebijakannya yang gagal, tetapi juga pemimpinnya yang akan menjadi bahan ejekan.