Kesenangan musiman
-(Rabu, 1 Oktober 2025)-
Saat ini sedang marak fenomena lari. Generasi Z pun banyak yang ikut berlari, entah karena dorongan fomo (fear of missing out) atau karena kesadaran diri akan pentingnya berolahraga. Apa pun alasannya, hasilnya sama: semakin banyak orang yang turun ke jalan untuk berlari.
Fenomena ini bukan hanya soal olahraga. Kini banyak event lari diselenggarakan, lengkap dengan hadiah yang ditawarkan. Meski demikian, bagi sebagian peserta, hadiah bukan tujuan utama. Itu hanya sekadar bonus. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk berkumpul bersama komunitas, bercanda, tertawa, bahkan makan bersama setelah berlari. Sehat dapat, gembira pun bertambah.
Namun, pertanyaannya: sampai kapan musim lari ini bertahan? Sulit dipastikan. Kita semua tahu, tren semacam ini biasanya hanya sementara. Dulu, misalnya, sempat ada musim sepeda—gowes istilah populernya. Hampir semua orang mendadak ingin bersepeda. Jalan raya dipenuhi pesepeda baru. Tetapi lama-kelamaan tren itu meredup. Yang tersisa hanyalah mereka yang memang sejak awal adalah penggemar sejati gowes.
Fenomena serupa juga pernah muncul pada permainan lato-lato. Bunyi ketukan bola plastik itu terdengar di mana-mana: di sekolah, di jalan, bahkan di rumah ibadah dan rumah sakit. Namun kini, di mana suara itu? Hampir lenyap. Mungkin orang sudah bosan.
Kini giliran lari yang naik daun. Apakah ia akan bernasib sama seperti gowes dan lato-lato? Besar kemungkinan, iya. Mungkin tahun depan sudah berganti dengan tren baru. Siapa tahu, jalan kaki menjadi “olahraga massal” berikutnya.
Dari sini kita bisa melihat pola yang sama: manusia selalu mencari bentuk hiburan, kesenangan, dan cara mengusir penat. Musim berganti, tren berubah, tetapi motifnya tetap sama—mencari kegembiraan dan pelarian dari rutinitas. Dalam hal ini, bosan adalah musuh utama manusia. Barangkali inilah perang sejati yang setiap hari kita hadapi: melawan rasa jemu yang tak pernah berhenti datang.