Mangga pemimpin
-(Rabu, 29 Oktober 2025)-
Selain durian, ada satu buah lagi yang saya suka: mangga—apalagi mangga gadung. Di kampung, kami memiliki beberapa pohon mangga gadung. Setiap kali pohon-pohon itu berbuah, saya selalu melarang buah-buahnya dijual atau ditebas oleh pedagang mangga.
Rasanya kami tak pernah bosan makan buah mangga ini. Saya kira, ini adalah buah paling sehat. Bagaimana tidak, pohon-pohon mangga di rumah orang tua kami tumbuh alami, tanpa pupuk, tanpa pestisida, tanpa obat-obatan kimia. Semuanya alami. Artinya, buahnya pun alami.
Setiap musim panen mangga, kami akan pulang ke rumah orang tua, salah satunya untuk mengambil dan menikmati buah mangga itu. Begitulah kebahagiaan orang tua kami: melihat anak cucunya makan mangga dari kebun sendiri, dari pohon yang sudah lama ditanam. Barangkali umur pohon-pohon itu sudah sama dengan anak-anak saya, bahkan mungkin lebih tua.
Saya ingat, ketika masih SD dulu, kepala daerah di tempat kami pernah menggalakkan warganya untuk menanam pohon mangga di pinggir-pinggir jalan. Dan ternyata, generasi berikutnya-lah yang akhirnya bisa menikmati panen mangga dari pohon-pohon yang ditanam pada masa itu.
Pertanyaan saya sekarang: adakah kepala daerah masa kini yang masih berpikiran seperti itu? Rasanya sudah jarang. Barangkali karena hasilnya terlalu lama untuk dilihat dan dipetik, sehingga tidak akan populer atau berdampak langsung pada elektabilitas.
Padahal, seharusnya justru ketika masih berkuasa, seorang pemimpin bisa mengarahkan daerahnya menjadi sentra produksi buah atau tanaman tertentu. Mumpung punya kewenangan, bisa saja pemerintah daerah menggalakkan penanaman buah dengan cara membagikan bibit gratis kepada warga—untuk ditanam di halaman rumah, kebun, atau di tepi jalan. Bisa mangga, alpukat, kelengkeng, atau buah lainnya.
Itu sejatinya bentuk investasi jangka panjang: menanam kemandirian, ketahanan pangan, dan kebanggaan daerah. Tapi sayang, tak banyak yang berpikir sejauh itu. Padahal, di daerah yang subur seperti ini, hampir tanaman apa saja bisa tumbuh dengan baik.
Aneh memang. Kita hidup di tanah yang kaya, tapi sering kekurangan visi jangka panjang.