Ketupat MBG

-(Sabtu, 4 Oktober 2025)-

Dua hari berturut-turut saya sarapan ketupat Kandangan. Ketupatnya tentu sama sebagaimana layaknya ketupat pada umumnya. Kandangan sendiri adalah nama sebuah daerah di wilayah ini, dan dari sanalah makanan ini berasal. Tentu saja ada yang khas.

Ketupat Kandangan disajikan dengan kuah santan, dilengkapi lauk ikan haruan asap atau telur rebus. Beberapa warung juga menyediakan pilihan lauk berupa jeroan ikan haruan. Rasanya jelas lezat dan nikmat. Saya masih bisa membayangkan bagaimana dua hari itu saya menikmati ketupat Kandangan di dua warung berbeda. Meski sajiannya sama, bumbu dan cara memasak membuat cita rasanya tidak persis sama. Namun keduanya tetap sama-sama enak.

Kalau Anda belum pernah mencobanya, rugilah Anda yang sudah diberi waktu untuk hidup. Hehehe… kalimat ini sengaja saya lebih-lebihkan, sebagaimana konten media sosial yang sering dilebih-lebihkan. Sering juga ada video yang sengaja dipotong untuk tujuan framing. Padahal jika disimak secara utuh, konteksnya jelas berbeda. Demi konten, demi jumlah penonton, demi cuan, “membohongi” penonton kerap dilakukan. Padahal, sesungguhnya hal itu merupakan pembodohan masyarakat.

Kembali ke ketupat. Saya sudah beberapa kali menulis tentang ketupat Kandangan ini. Barangkali karena saya memang sudah terlanjur suka dengan masakan ini. Saya bahkan sudah memiliki daftar khusus warung ketupat Kandangan yang menurut saya lezat. Setidaknya ada enam tempat yang saya cocok dengan rasanya. Menariknya, meski sama-sama enak, semuanya punya cita rasa yang berbeda.

Pertanyaan liarnya kemudian muncul: apakah ketupat Kandangan cocok menjadi salah satu pilihan menu program makan bergizi gratis (MBG) bagi anak sekolah?

Dari sisi kandungan gizi, menurut saya masih cukup baik. Ketupat menjadi sumber karbohidrat. Ikan haruan atau telur menjadi sumber protein. Yang mungkin agak kurang adalah ketiadaan sayuran. Namun hal ini bisa dilengkapi dengan tambahan seperti kembang kol atau wortel rebus yang disajikan terpisah sebagai lalapan.

Tentu saja, menu ketupat Kandangan tidak perlu disajikan setiap minggu. Cukup sekali dalam sebulan. Tujuannya jelas: mengenalkan anak-anak pada ragam masakan khas daerahnya sendiri.

Dengan begitu, selain meningkatkan gizi anak sekolah untuk mendukung kecerdasan dan masa depan mereka, program MBG juga bisa menjadi sarana memperkenalkan kembali berbagai menu khas nusantara.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"