Qunut perdamaian
-(Rabu, 15 Oktober 2025)-
Perjanjian damai Gaza sudah ditandatangani. Ini tentu menjadi kabar gembira bagi kemanusiaan. Harapannya, setelah itu tak ada lagi perang, tak ada lagi manusia yang terbunuh, tak ada lagi keluarga yang sedih berduka, tercerai berai. Sebaliknya, yang wujud adalah kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan.
Lalu bangsa-bangsa itu dapat melanjutkan kehidupannya, membangun peradaban menjadi semakin baik, hidup rukun, saling menghormati, dan saling mengasihi. Semua itu tentu bisa terjadi karena adanya komitmen para pemimpinnya—yang tidak egois, tidak mementingkan kepentingan pribadi, dan menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas segalanya. Dan tentu saja, sebagai umat beragama, kita meyakini bahwa semua itu terjadi karena pertolongan-Nya.
Maka kemudian saya teringat pada ritual Subuh di langgar tempat kami salat. Di sana, pada rakaat kedua, selalu dibacakan doa Qunut Nazilah. Karena bacaannya panjang, doa itu lalu dicetak dalam standing banner yang ditempatkan di depan imam. Barangkali tidak banyak masjid, mushala, atau langgar yang melakukan hal itu. Tetapi langgar kami konsisten, selalu memanjatkan Qunut Nazilah sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa Palestina.
Ketika perjanjian damai itu akhirnya diteken, terlintas pertanyaan dalam hati: adakah kaitannya dengan Qunut Nazilah yang terus dibaca itu? Sebagai umat yang meyakini kekuasaan dan kekuatan Ilahi, tentu saja semua itu berkorelasi. Barangkali Tuhan telah menggerakkan hati dan tangan para pemimpin dunia untuk melakukan upaya damai bagi Palestina.
Semoga damai itu benar-benar terjadi. Agar surga itu bisa dicicil di muka bumi.