Menulis bombastis
-(Selasa, 7 Oktober 2025)-
Belakangan ini saya sering mengalami hal yang sama: duduk berlama-lama dengan smartphone di tangan, aplikasi catatan terbuka, tetapi tak satu pun gagasan mengalir. Otak seperti macet. Padahal niatnya sederhana: menulis satu hari satu tulisan. Namun, entah sejak kapan, target itu mulai terasa seperti beban.
Meski begitu, saya sadar, menulis adalah komitmen. Ia adalah proses belajar yang menuntut disiplin dan konsistensi. Jam terbanglah yang akan menempa kemahiran. Karena itu, satu-satunya cara untuk melatih diri adalah tetap menulis, bahkan ketika pikiran sedang buntu. Sebab kebuntuan hanya bisa dipecah dengan satu tindakan sederhana: memulai. Menulis tentang kebuntuan itu sendiri, misalnya. Seperti yang sedang saya lakukan sekarang.
Menariknya, dari kebuntuan ini justru lahir satu gagasan baru: tentang bagaimana motif penonton dan motif cuan mendorong para kreator untuk membuat judul-judul bombastis dan clickbait. Fenomena ini sudah begitu lazim, bahkan di dunia berita. Tak jarang, sebuah judul sengaja dikemas seolah-olah mengadu domba antarpejabat, padahal jika kita telusuri isi ucapannya, tidak ada niat menentang siapa pun.
Inilah wajah lain dari dunia informasi hari ini, di mana popularitas dan keuntungan sering kali mengalahkan akurasi. Fakta dipelintir menjadi sensasi; data ditinggalkan demi drama. Kita hidup di era post-truth, ketika emosi lebih dipercaya daripada realitas.
Karena itu, literasi dan edukasi menjadi sangat penting. Masyarakat perlu belajar membedakan antara opini dan fakta, antara dugaan dan kebenaran. Tanpa itu, kita akan mudah terseret arus berita yang menebar kemarahan tanpa dasar.
Ironisnya, bahkan mereka yang disebut “pengamat” kadang turut memperkeruh suasana. Mereka menafsirkan percakapan dua tokoh, lalu menjadikannya seolah fakta yang pasti benar. Padahal, bukankah itu hanya prasangka yang dikemas dengan label “analisis”?