Rasa iri

-(Kamis, 16 Oktober 2025)-

Katanya, Pak Menteri itu telah menerima pesan teks yang kira-kira berbunyi: “Jangan, nanti yang lain iri.” Anda tentu sudah tahu peristiwa apa yang dimaksud. Namun, bukan latar belakang pesan itu yang ingin saya soroti. Saya lebih ingin mengangkat soal rasa iri.

Barangkali rasa iri inilah yang menjadi alasan utama kebencian iblis kepada manusia. Ia terus menggoda agar manusia melanggar perintah Tuhan, hingga akhirnya diusir dari surga.

Lalu, dua saudara itu, Qobil dan Habil. Semoga Anda tahu kisah ini. Sebuah kisah tragis tentang bagaimana rasa iri membuat seseorang tega mencelakai darah dagingnya sendiri. Bisa jadi, itulah dosa pertama di muka bumi yang bersumber dari iri hati.

Kisah serupa juga tergambar dalam film The Lord of the Rings, ketika Smeagol dan Deagol memperebutkan cincin yang ditemukan di dasar sungai. Awalnya, keduanya hanyalah dua sahabat yang gembira menemukan benda berharga. Namun, ketika rasa ingin memiliki berubah menjadi rasa iri, Smeagol pun tega menghabisi Deagol demi cincin itu.

Setelah ratusan bahkan ribuan tahun, apakah rasa iri itu hilang dari diri manusia?
Ternyata tidak. Justru rasa iri semakin menjadi-jadi saat ini. Mengapa demikian? Barangkali memang sudah built in dalam diri manusia sejak diciptakan. Mungkin agar hidup ini tidak sepi. Tanpa rasa iri, dunia akan sunyi dari dinamika. Karena dari iri juga lahir ambisi, persaingan, dan upaya untuk menjadi lebih baik. Tetapi, di sisi lain, rasa iri yang tak terkelola menjelma menjadi sumber konflik dan kebencian. 

Apalagi ketika dunia dimanjakan oleh teknologi informasi yang memudahkan manusia mengakses kehidupan sesamanya. Alih-alih menumbuhkan motivasi, kemudahan ini justru menimbulkan masalah.

Maka, muncullah anjuran bahkan larangan bagi pemimpin, pejabat, ulama, atau tokoh masyarakat untuk “pamer”. Malahan ketika mereka tidak bermaksud demikian, saat tertangkap kamera sedang menikmati kehidupannya pun, mereka masih saja disalahkan dan dianggap bergaya hidup mewah yang memicu kecemburuan.

Dari sini kita tahu, betapa rasa iri dan kecemburuan memang menjadi sumber banyak masalah dalam kehidupan manusia.

Namun mungkin yang perlu kita renungkan bukanlah bagaimana menghapus rasa iri. Karena itu mustahil. Melainkan bagaimana mengendalikannya. Sebab setiap kali iri muncul, sesungguhnya itu tanda bahwa hati kita belum tenang. Kebahagiaan sejati bukan terletak pada memiliki lebih dari orang lain, tetapi pada kemampuan untuk bersyukur atas apa yang sudah ada.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"