Melawan menua

-(Minggu, 5 Oktober 2025)-

Entahlah, apakah ini bisa disebut sebuah ketakutan. Namun, sesaat ketika saya melewati dua orang lansia yang sedang berdiri menunggu, pikiran itu muncul. Saya memperhatikan keduanya: pria dengan wajah yang tak lagi bisa disembunyikan oleh waktu. Penampilan mereka jelas menandakan bahwa usia telah jauh berjalan.

Seiring bertambahnya usia, fisik manusia memang mengalami perubahan. Mungkin dulu, ketika masih muda, mereka tampak gagah dan menawan. Namun, proses penuaan membuat semua itu perlahan hilang. Tak ada fisik yang mampu mempertahankan kejayaan masa mudanya selamanya.

Kita bisa melihat contoh paling jelas pada artis atau bintang film. Ketika muda, wajah mereka begitu memesona—cantik, tampan, menawan. Tapi kini, setelah puluhan tahun berlalu, wajah-wajah itu pun berubah. Kecantikan dan ketampanan mereka tak bisa abadi.

Maka, ketika muncul pertanyaan bernada kelakar, “Piye? Isih penak jamanku to?”—sebuah suara imajiner dari masa silam, 20–30 tahun lalu—jawabannya tentu saja iya. Bukan karena keadaan sosial atau politik yang lebih baik, melainkan karena saat itu kita masih muda. Dan dengan usia muda, jiwa dan raga memang lebih kuat, lebih bersemangat, serta lebih mampu menikmati segala kesenangan hidup.

Namun, di balik renungan itu, muncul juga rasa waswas: apakah saya pun akan menjadi seperti mereka? Apakah suatu hari saya akan tampil sebagai kakek, aki-aki, simbah, atau eyang, dengan segala tanda fisik yang tak bisa dilawan? Pertanyaan itu menyelinap dalam batin, kadang memunculkan senyum getir, kadang juga rasa takut.

Lalu, muncullah imajinasi: seandainya raga ini bisa bertahan dalam bentuk fisik yang muda selamanya, alangkah luar biasanya. Sungguh, semua orang pasti menginginkan hal itu. Seperti tokoh fiksi Captain America atau Winter Soldier, yang tetap kuat dan muda meski telah hidup melewati berbagai generasi.

Tentu, imajinasi ini bukan hal baru. Sejak lama, manusia telah membayangkan kemungkinan itu, lalu menciptakan tokoh-tokoh fiksi yang melawan hukum waktu. Pertanyaannya, apakah sains dan teknologi mampu mewujudkannya?

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa apa yang dulu tampak mustahil bagi manusia, kini bisa terwujud berkat pengetahuan dan teknologi. Mungkin, mempertahankan kemudaan fisik hanyalah soal waktu. Dan sampai saat itu benar-benar tiba, kita hanya bisa merenung: apakah kita akan menerima penuaan sebagai kodrat, atau tetap bermimpi melawan arus waktu?

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"