Lidah mengembara
-(Minggu, 19 April 2026)-
Barangkali ini sebuah anugerah: kesempatan untuk menikmati ragam kuliner Nusantara sambil menjalani hidup yang berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lain, saya tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah rasa—mengenal identitas suatu daerah melalui apa yang mereka hidangkan di meja.
Pernah suatu masa saya akrab dengan sup ikan dan choipan. Di waktu lain, saya menikmati ketupat Kandangan, paliat, hingga pundhut. Kini, lidah ini kembali berkenalan dengan sinonggi, sup ubi, kasuami, gogos, dan buras. Dan saya tahu, perjalanan ini belum usai. Suatu saat, mungkin saya akan kembali pada rasa-rasa yang lebih akrab: pecel, soto, sate gule, rawon—makanan yang terasa seperti pulang.
Dari pengalaman itu, muncul satu pertanyaan sederhana namun mengusik: apakah seseorang yang sejak kecil terbiasa sarapan pecel akan mudah beralih ke nasi kuning seperti masyarakat Sulawesi Tenggara? Atau sebaliknya, apakah mereka yang terbiasa dengan nasi kuning sanggup setiap hari sarapan soto atau bubur lemu seperti di Solo?
Lidah, rupanya, bukan sekadar alat pengecap. Ia menyimpan ingatan, kebiasaan, bahkan identitas. Apa yang kita anggap “enak” sering kali bukan semata soal rasa, tetapi soal apa yang telah lama kita kenal. Maka, ketika seseorang merasa asing terhadap makanan tertentu, bisa jadi itu bukan karena rasanya tidak enak, melainkan karena lidahnya belum pernah diajak berkenalan.
Di titik ini, saya mulai melihat bahwa persoalannya tidak berhenti pada rasa, melainkan pada cara pandang. Mindset, dan tentu saja pengalaman, memainkan peran penting. Apa yang kita biasakan sejak lama akan membentuk preferensi kita, bahkan tanpa kita sadari.
Maka, jika suatu kebiasaan—termasuk kebiasaan makan—ingin diubah menjadi lebih sehat, barangkali kuncinya bukan pada larangan, melainkan pada pembiasaan baru. Memberi contoh, menghadirkan alternatif, dan membiarkan waktu bekerja perlahan membentuk rasa yang baru.
Hal yang sama tampaknya berlaku pada kebiasaan sosial yang lebih luas. Kita kerap memberi stigma pada suatu masyarakat—misalnya soal kedisiplinan atau komitmen—seolah itu sifat yang melekat dan sulit diubah. Padahal, seperti halnya selera makan, karakter pun dibentuk oleh lingkungan dan kebiasaan yang berulang.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika perubahan ingin dimulai dari anak-anak, sementara mereka tumbuh dalam lingkungan yang masih mempertahankan kebiasaan lama. Di situlah tantangannya: bagaimana menanamkan nilai baru di tanah yang masih dipenuhi akar-akar lama.
Mungkin, seperti lidah yang belajar mencintai rasa baru, perubahan karakter pun membutuhkan waktu, ketelatenan, dan keberanian untuk terus mencoba. Sebab pada akhirnya, baik rasa maupun kebiasaan, adalah hasil dari apa yang kita ulangi—hari demi hari, tanpa terasa.