Karya kreatif
-(Minggu, 30 November 2025)-
Saya masih tertegun setelah membaca isi buku itu. Bagaimana para pembuat buku tersebut mampu sampai pada pemikiran sedalam itu? Imajinasi yang lalu dituangkan dalam bentuk komik—dengan percakapan yang menarik, bernas, memberi pengetahuan, sekaligus memantik gagasan-gagasan yang mind blowing.
Tentu itu bukan karya penulis pemula atau komikus debutan. Sangat mungkin komik tersebut merupakan hasil kolaborasi para pakar: orang-orang berpengalaman yang telah mengasah keterampilan mereka melalui proses panjang dan berulang—mungkin hingga ribuan kali—hingga mencapai level ahli.
Ketika mereka merekonstruksi apa yang terjadi di masa lalu berdasarkan temuan arkeologi, mereka jelas membutuhkan lebih dari sekadar kumpulan artefak. Mereka memerlukan kemampuan imajinasi historis. Misalnya, ketika muncul pertanyaan: Bagaimana manusia zaman dulu menemukan bahwa kentang, umbi-umbian, atau kacang-kacangan menjadi lebih enak setelah terkena api?
Imajinasi itu mungkin berkembang dari gambaran seperti ini: setelah kebakaran besar melanda hutan, para pemburu-pengumpul menelusuri sisa area yang hangus. Di sana, mereka mungkin menemukan umbi yang ikut terbakar. Didukung rasa ingin tahu dan naluri bertahan hidup, seseorang mencoba mencicipinya—dan ternyata rasanya lebih enak.
Begitu pula dengan kacang tanah yang terpanggang oleh api. Bahkan dengan hewan yang tak sempat menyelamatkan diri dari kebakaran. Manusia purba mencium aroma daging terbakar—aroma baru yang menggugah rasa penasaran mereka. Mereka mencicipi bagian daging yang tidak gosong, dan menyadari bahwa daging yang terkena panas ternyata lebih empuk dan lebih nikmat dibanding daging mentah yang selama ini mereka makan.
Dari penemuan-penemuan yang pada awalnya bersifat kebetulan inilah lahir pembelajaran baru: manusia mulai dengan sengaja membakar umbi-umbian maupun daging hasil buruan untuk mendapatkan rasa yang lebih baik.
Seluruh pengetahuan itu kemudian meresap ke dalam ingatan kolektif: dipraktikkan, diajarkan, diwariskan kepada generasi berikutnya. Selama ribuan tahun berlangsung, pengalaman itu berubah menjadi pengetahuan alamiah untuk bertahan hidup—pengetahuan yang lahir dari interaksi langsung dengan alam.
Dengan sudut pandang seperti itulah, karya komik yang saya baca menjadi terasa jauh lebih bermakna. Imajinasi yang mereka bangun bukan sekadar karangan bebas, tetapi jembatan yang menghubungkan bukti sejarah dengan kemungkinan yang logis. Mereka menghidupkan kembali perjalanan panjang manusia dalam menemukan cara makan, memahami alam, hingga mencipta peradaban.
Dan saya pun semakin yakin: kreativitas yang kuat selalu berakar pada rasa ingin tahu dan pengalaman manusia sejak awal keberadaannya.