Hujan birokrasi

-(Selasa, 25 November 2025)-

Hari-hari belakangan ini, setiap hari turun hujan. Adakalanya saat dini hari, adakalanya pula di siang hari. Bagi kalangan petani, barangkali ini menjadi berkah—asal hujannya tidak membuat banjir dan sawah tergenang.

Bagi pihak lain? Nanti dulu. Barangkali ada yang mengeluh, lalu menjadikan hujan sebagai kambing hitam atas pekerjaan yang terus tertunda penyelesaiannya.

Hujan ini tentu akan menjadi persoalan ketika akhir tahun, saat banyak pekerjaan infrastruktur dikejar target penyelesaiannya. Ada yang sedang merehab gedung, memperbaiki jalan dan jembatan, atau merevitalisasi sekolah. Belum lagi proyek-proyek fisik lainnya, baik pemeliharaan maupun perawatan.

Mungkin akan ramai-ramai menyalahkan hujan. Tapi jika kita lebih kritis, muncul pertanyaan: ke mana saja selama ini hingga proyek-proyek itu baru dikerjakan sekarang?

Sebelum musim hujan seperti ini, tentu yang terjadi adalah musim kemarau. Dan itu sudah pasti, karena negara ini hanya memiliki dua musim. Lalu mengapa ketika musim kemarau proyek-proyek itu belum dikerjakan?

Pertanyaan yang lebih kritis lagi bisa diajukan manakala sekarang, di tengah guyuran hujan setiap hari, proyek-proyek fisik itu justru dikebut. Apakah outputnya bisa bagus? Baru saja semen dituangkan, sudah diguyur hujan. Berapa banyak bahan material akhirnya mubazir?

Kenyataannya, ini menjadi sebuah keprihatinan. Akibat perencanaan yang kurang matang—atau jangan-jangan akibat budaya kerja yang tidak gesit dan cepat—semua berujung pada kerugian waktu, ekonomi, dan manfaat bagi masyarakat. Dampak yang mestinya bisa dirasakan di awal tahun atau setidaknya triwulan kedua, baru bisa dirasakan pada triwulan keempat, bahkan mungkin di tahun berikutnya karena proyek baru selesai di akhir tahun.

Meski ini telah terjadi dari tahun ke tahun, nampaknya kita juga belum belajar dan belum berkomitmen untuk melakukan perbaikan. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi dengan birokrasi kita ini.

Barangkali siapa pun pemimpinnya, birokrasi ini akan tetap saja sama. Jangan-jangan beberapa program, lembaga baru, dan strategi pembangunan yang sedang dijalankan saat ini dilatarbelakangi oleh keputusasaan terhadap kinerja birokrasi.

Maka pada titik ini, semestinya kalangan birokrasi harus mawas diri dan melakukan koreksi. Jika tidak, bisa jadi mereka akan digantikan oleh akal imitasi.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"