Berpagi-pagi pergi

-(Sabtu, 8 November 2025)-

Mata saya nanar memandangi jam digital yang menempel di tiang bangunan itu. Angka merah menunjukkan 4:31. Di luar masih gelap. Terlihat beberapa titik cahaya putih dari lampu jalan dan bangunan yang menandakan kehidupan belum sepenuhnya bangkit.

Sebagian besar orang mungkin masih terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Ada yang tengah bermimpi mendapat banyak uang dari undian, menemukan seonggok emas, atau bertemu dengan jodoh yang lama dinantikan. Namun, tak sedikit pula yang bermimpi buruk—digigit ular, dikejar anjing, atau mengalami sesuatu yang membuat mereka terbangun dengan keringat dingin. Sebagian orang mencoba menafsirkan makna mimpinya, berusaha membaca tanda-tanda yang mungkin terkandung di dalamnya. Sebagian lain justru menganggap mimpi tak lebih dari “kembang tidur”—sekadar bunga yang mekar sebentar lalu gugur begitu saja.

Namun, di luar sana, dunia nyata sudah mulai bergerak. Meski hari masih sangat pagi, gedung besar ini—tempat manusia berangkat dan berpulang—mulai ramai didatangi orang-orang yang hendak bepergian. Mungkin begitu sibuknya hidup manusia modern hingga transportasi pagi buta pun menjadi kebutuhan. Bisa jadi karena tuntutan ekonomi yang mendorong perusahaan untuk mengoptimalkan waktu kerja, atau karena dorongan pribadi manusia yang ingin segera pergi—melarikan diri dari kebosanan, atau mengejar satu urusan yang tak bisa ditunda.

Kenyataannya, jadwal transportasi pagi bukanlah kebetulan. Ia muncul karena kebutuhan manusia untuk mencapai tempat lain, tempat tujuan yang dianggap penting, bahkan bila harus menukar waktu tidur dan kenyamanan. Mereka rela menanggung kelelahan demi sesuatu yang mereka yakini akan membawa kebahagiaan—sebuah hasil, pencapaian, atau sekadar rasa lega setelah urusan terselesaikan.

Melihat keramaian pagi buta di gedung besar dekat tanah lapang, di mana “burung-burung besi” bersiap terbang, kita mungkin perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang terus dikejar manusia hingga ia rela mengorbankan istirahatnya, bahkan sebelum matahari terbit?

Apakah manusia benar-benar mencari kebahagiaan, atau sekadar berlari dari kehampaan yang ditinggalkannya di tempat ia berdiri sekarang?

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"