Kerinduan suci

-(Minggu, 16 November 2025)-

Pada sebagian orang yang pernah melaksanakan haji atau umroh, setelah rentang waktu tertentu, mereka merasakan kerinduan pada dua tempat suci itu: Masjidil Haram dengan Ka’bah-nya dan Masjid Nabawi dengan Raudhah-nya. Termasuk pada diri saya.

Entahlah, ada satu perasaan mendalam yang sulit dituliskan dengan kata-kata. Sebuah kalimat klise yang sejatinya menggambarkan ketidakmampuan manusia untuk memverbalkan apa yang tengah ia rasakan.

Kesulitan membahasakan ini barangkali juga menjadi andil perbedaan besar antara para saintis dan para sufi; antara logika rasional dan pengalaman transendental. Yupp… saya menemukan kata-kata yang tepat atas perasaan rindu pada dua tempat suci itu: pengalaman transendental. Barangkali inilah yang dialami oleh orang-orang yang selalu merasa rindu pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Namun kerinduan yang sifatnya spiritual itu tidak selalu mudah dilunaskan. Untuk kembali ke tanah suci, dibutuhkan waktu dan biaya. Karena itu, muncul pertanyaan sederhana namun penting: apa yang dapat dilakukan untuk sekadar mengobati kerinduan itu? Di sinilah setiap orang menemukan caranya masing-masing.

Misalnya, ada yang kembali membuka foto dan video saat berada di tanah suci. Ada pula yang membaca kembali catatan harian perjalanan ibadahnya. Barangkali ada yang menonton siaran langsung Masjidil Haram, menyaksikan Ka’bah dan jamaah yang tengah bertawaf. Pun ada yang mungkin melakukan hal seperti yang saya lakukan.

Sambil olahraga, saya berjalan kaki atau berlari memutari tanah lapang atau satu jalanan sebanyak tujuh kali. Saat melakukan itu saya membayangkan tengah melakukan tawaf. Setelah itu, saya tambah berjalan lurus lalu kembali lagi sebanyak tujuh kali, yang saya bayangkan sebagai sa’i.

Alhasil, dua tiga pulau terlampaui: saya berolahraga sekaligus melepas kerinduan akan Baitullah. Dengan kata lain, aktivitas duniawi saya harmonisasikan dengan usaha batin ukhrawi. Tentu itu adalah “ijtihad” saya pribadi. Setiap orang punya cara masing-masing.

Namun yang lebih penting dan lebih utama dari itu semua adalah nilai-nilai haji dan umroh dapat selalu kita jalankan dan kita bisa istiqamah. Dan nampaknya itu adalah sesuatu yang tidak mudah. Hanya dengan pertolongan Allah, kita dapat melaksanakannya dengan baik.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"