Negara Mendung
-(Minggu, 2 November 2025)-
Tiba-tiba negara mendung hitam menyerang taman di depan masjid itu. Dari suasana yang semula cerah dengan sengatan mentari pagi yang hangat, berubah menjadi temaram seolah hari sudah merayap menuju petang.
Saya urung untuk menyelesaikan tujuh putaran, padahal tersisa tiga putaran lagi. Saya bergegas menuju kendaraan, begitu juga dengan orang-orang yang berolahraga di taman itu.
Suasana pagi yang semula cerah kini berubah panik. Mendung yang menebal dan hempasan angin kencang membuat siapa pun yang berada di luar ruangan merasa tak tenang. Pengetahuan manusia akan tanda-tanda alam pun segera menyeruak ke halaman pertama pikiran: ini pertanda akan turun hujan lebat.
Di jalanan, kendaraan melaju dengan cepat. Para pengemudi tampak bergegas menuju rumah masing-masing, mungkin agar tidak kehujanan. Angin masih bertiup kencang, membawa sampah dan barang-barang ringan di depan rumah warga beterbangan di jalanan.
Ketika melewati penjual es tebu itu, terlihat ia sedang mengemasi gerobaknya dan menutup kembali dagangannya. Padahal ketika berangkat tadi, ia tengah bersiap-siap membuka kios gerobaknya.
Yang terpikir dalam benak saya adalah bagaimana dengan pasar-pasar tradisional itu. Belum lagi pasar mingguan. Ada banyak pedagang yang membuka lapak di pinggir-pinggir jalan dan lorong pasar tanpa atap. Tentu saja, ketika hujan turun mereka akan kehujanan, dan barang dagangannya akan ikut basah. Sudah terbayang bagaimana kesedihan mereka. Apalagi hari masih pagi, mungkin belum banyak pembeli yang datang, sementara tanda-tanda hujan sudah jelas terlihat. Hari seperti ini pasti akan mengganggu rezeki mereka.
Barangkali, ketika suasana itu terjadi dan ada sinyal akan turun hujan, mereka para pedagang mulai merapal doa-doa, memohon kepada Tuhan agar hujan tak segera diturunkan.
Dan benar saja, rupanya negara awan hitam itu hanya sekadar melintasi kota ini. Entahlah mereka akan ke mana, akan menghujani wilayah mana. Angin kencang rupanya adalah kendaraan yang membawa mereka pergi.
Tak lama, kota pun kembali terang. Cahaya matahari muncul perlahan dari balik awan. Aktivitas pagi pun berlanjut seperti semula.
Mungkin benar ungkapan itu: mendung tak selamanya berarti hujan.