Subuh syahdu
-(Sabtu, 15 November 2025)-
Tinggal di lingkungan dengan akses ke beberapa masjid atau mushola yang terjangkau itu sebuah kenikmatan tersendiri. Saya bisa memilih kemana saya ingin sholat berjamaah. Artinya saya berusaha tidak terikat dengan satu masjid atau mushola. Keberagaman pilihan ini memberi saya pengalaman beribadah yang tidak monoton dan selalu memiliki nilai tambah tersendiri.
Salah satu keuntungan yang riil saya dapatkan adalah subuh tadi. Sebenarnya saya prefer ke mushola sebelah timur, tapi rupanya persiapan saya untuk berangkat ke mushola itu kurang lebih awal. Sebelum berangkat saya sempat ragu dengan gerimis yang turun: berangkat ke langgar atau sholat di rumah? Keraguan ini wajar, karena kondisi cuaca sering memengaruhi keputusan seseorang untuk berjamaah. Namun tiba-tiba seperti ada dorongan kuat untuk tetap pergi sholat berjamaah di langgar. Saya pun bergegas.
Dengan tujuan awal langgar sebelah timur, saya melangkah hingga di persimpangan jalan. Saya berhenti sejenak, mendengarkan suara speaker dari mushola sebelah timur itu. Ternyata terdengar imam sudah membaca Al-Fatihah. Ini berarti, jika saya tetap lanjut ke mushola itu, saya pasti menjadi masbuk. Secara logis, saya menilai bahwa tujuan awal perlu diubah demi tetap mendapat pahala berjamaah dari awal rakaat.
Akhirnya, saya putuskan bergerak ke mushola sebelah utara. Setiba di sana, masih terdengar suara puji-pujian, tetapi sudah akan selesai. Saya tentu sudah hafal pada bagian mana dzikir itu akan selesai. Artinya saya tidak sempat lagi sholat sunnah fajar. Konsekuensinya jelas, tetapi masih lebih baik daripada tidak berjamaah.
Saya lihat hanya ada dua orang yang berada dalam langgar itu. Barangkali karena subuh itu gerimis, membuat jamaah ragu untuk melangkahkan kakinya ke langgar. Ternyata yang sedang melantunkan puji-pujian adalah seseorang yang akan bertindak sebagai imam. Ini memberi saya pemahaman bahwa jamaah lainnya mungkin masih dalam perjalanan.
Selesai berdoa, mikrofon saya ambil alih. Saya kemudian melantunkan iqomat. Dan itu adalah momen pertama saya melantunkan iqomat di mushola itu—sebuah pengalaman baru yang tidak saya duga sebelumnya.
Kami pun berdiri untuk mendirikan sholat subuh berjamaah. Tak berapa lama kemudian, orang-orang berdatangan ikut bergabung dalam sholat subuh itu. Rupanya gerimis sudah reda. Situasi ini memperlihatkan bahwa komitmen jamaah tetap terjaga meski cuaca sempat menghalangi.
Begitulah sebuah subuh yang syahdu. Dengan pengalaman baru. Sebuah berkah dan menjadi pertanda baik untuk semuanya. Terkadang, keberanian mengambil langkah kecil menuju kebaikan justru membukakan jalan bagi keberkahan yang lebih besar.