Kabar buruk
-(Rabu, 26 November 2025)-
Pada akhirnya, kita bisa merasa bosan dan menutup diri dari kabar buruk. Informasi negatif itu seperti beban: ketika terus menerus menerpa diri, ia kian memberatkan pikiran dan perasaan, dan dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental—bahkan memicu depresi.
Ibarat gelas berisi air penuh. Pada awalnya terasa ringan. Namun ketika terus digenggam tanpa jeda, tangan akan terasa semakin letih dan sakit. Begitu pula kabar buruk: bukan karena ia langsung menghancurkan kita, tetapi karena kita menggenggamnya terlalu lama dalam pikiran.
Selain berusaha beristirahat dari memikirkan masalah yang sama berulang-ulang, upaya lain yang bisa dilakukan adalah membatasi, bahkan menghindari paparan kabar buruk. Dengan kata lain, memperbanyak kabar yang menggembirakan—yang membangun optimisme dan harapan akan masa depan yang lebih baik—merupakan pilihan yang lebih sehat.
Namun kenyataannya, kita hidup berdampingan dengan orang lain: keluarga, teman, atau rekan kerja. Mereka bercerita tentang hidup mereka—kadang membawa kabar yang menyenangkan, namun tak jarang pula menyampaikan kesedihan, kekecewaan, konflik, atau kesulitan keuangan. Informasi dari mereka, terutama yang memiliki kedekatan emosional, dapat mempengaruhi kondisi batin kita. Itu juga merupakan bentuk kabar buruk yang mampu menambah beban mental. Kita bisa jadi ikut sedih, marah, atau merasa dipanggil untuk ikut menyelesaikan masalah tersebut.
Membatasi diri dari cerita-cerita seperti ini mungkin sering dianggap sebagai sikap menghindar. Padahal penilaian seperti ini merupakan warisan pola pikir lama yang sepatutnya dikritisi secara rasional. Pertanyaannya: salahkah jika kita menjaga jarak dari masalah orang lain ketika kita sendiri sedang berjuang agar tetap sehat?
Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian dan tekanan ekonomi yang naik turun, mempertahankan hidup yang lebih tenang adalah kewajaran—bahkan kebutuhan—agar mental kita tidak runtuh. Tidak setiap masalah perlu kita tanggung. Tidak setiap keluhan harus kita serap.
Dengan kata lain, membatasi diri dari kabar buruk atau menutup diri dari masalah pribadi orang lain adalah pilihan yang bisa ditempuh ketika kita sudah tidak lagi memiliki kapasitas untuk membantu secara langsung. Itu bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan cara untuk menjaga kesehatan diri sendiri agar tetap mampu menjalani hidup dengan seimbang.