Puasa Mutih
-(Rabu, 5 November 2025)-
Hari ini tepat tanggal 14 bulan hijriah. Itu tertulis di kalender meja saya. Nama bulan hijriahnya apa, itu yang saya belum bisa pastikan. Di pojok kanan atas tertulis dua nama: Jumadil Ula – Jumadil Akhir 1447.
Tanggal 14 itu berarti satu dari tiga hari pertengahan bulan hijriah, di mana umat Islam disunnahkan untuk berpuasa. Namanya ayyamul bidh, alias puasa mutih. Barangkali disebut mutih dari kata putih, karena pada malam di tiga hari itu bulan purnama bersinar terang dengan cahaya putihnya.
Dalam banyak kisah dan budaya, bulan purnama kerap dianggap memiliki kekuatan mistis. Kita mengenal mitos manusia serigala yang berubah wujud saat bulan penuh. Kepercayaan serupa juga ditemukan di berbagai kebudayaan kuno yang melihat purnama sebagai simbol kekuatan alam atau spiritualitas tertentu.
Saya belum tahu persis asbabun nuzul dari anjuran puasa mutih ini. Apakah dulu Rasulullah SAW melakukan puasa itu karena melihat adanya kepercayaan di masyarakat Arab terhadap bulan purnama, yang kemudian beliau luruskan melalui ibadah puasa? Ini yang belum saya pahami.
Dugaan saya, mungkin memang ada kepercayaan seperti itu yang dirasa perlu diubah dengan pemikiran dan ibadah yang lurus — tujuannya untuk memurnikan akidah, agar manusia tidak lagi menggantungkan makna spiritual pada fenomena alam, melainkan pada hubungan langsung dengan Allah SWT.
Jika dikaitkan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin dan Kamis, maka dalam satu bulan itu setidaknya ada 9–11 hari untuk berpuasa sunnah. Dengan jumlah hari tersebut, di mana ada selang-seling antara hari berpuasa dan hari tidak berpuasa, sepertinya hal itu juga memberikan dampak bagi kesehatan tubuh. Jika puasa dilakukan dengan benar, barangkali cukup dengan menjalankan puasa sunnah di sejumlah hari setiap bulannya, berat tubuh bisa menjadi lebih ideal dan metabolisme tubuh lebih seimbang.
Begitulah. Puasa Ayyamul Bidh bukan sekadar amalan spiritual yang berakar pada simbol cahaya bulan purnama, tetapi juga refleksi dari keseimbangan antara aspek keimanan, budaya, dan kesehatan manusia.