Hujan Narasi
-(Minggu, 9 November 2025)-
Saya duduk tak lagi pilih-pilih kursi, yang penting kursi depan. Entah di lorong, tengah, atau jendela. Sepertinya sudah bukan masanya lagi — mungkin karena sudah terlalu sering terbang — sehingga pilihan kursi jendela yang bagi sebagian orang menarik, bagi saya kini tidak lagi istimewa.
Namun, tentu saja, saya masih punya preferensi: kursi bagian depan. Alasannya sederhana, agar saya bisa cepat keluar dari burung besi itu dan segera menuju tujuan akhir.
Duduk dalam pesawat selama kurang lebih satu jam penerbangan adakalanya membuat kita bosan. Karena itu, sejak kali duduk di kursi, saya berusaha memejamkan mata agar bisa terlelap dan segera tiba di tujuan. Barangkali inilah satu-satunya “ilmu” atau “ajian” yang mampu membuat kita merasa cepat sampai. Seberapa jauh perjalanan, seberapa lama waktu tempuh, akan terasa singkat jika kita tertidur. Maka, cara paling ampuh untuk mengakselerasi perjalanan bukanlah dengan menumpang moda transportasi super cepat, tetapi dengan membuat penumpangnya tertidur dan baru terbangun ketika sudah sampai.
Masalahnya, tidak dengan perjalanan kali ini. Saya sulit tertidur. Entahlah, mungkin karena sore tadi saya sudah mencicil tidur.
Karena itu, saya mengambil smartphone dari tas yang sudah dalam mode pesawat. Saya membuka aplikasi catatan dan mulai menggerakkan dua jempol saya untuk menulis apa yang tengah saya pikirkan.
Ketika kehabisan ide, saya menengok ke arah jendela. Saya melihat langit berwarna biru dengan deretan awan putih. Ada pula seonggok awan putih yang tampak menyendiri dari teman-temannya.
Pada saat demikian, lamunan saya liar membayangkan bagaimana jika tiba-tiba saya melihat Superman sedang terbang melintas, atau mungkin Iron Man yang sedang bepergian. Tentu itu hanyalah lamunan kosong yang mustahil terjadi. Toh, semua tokoh itu hanya fiksi, sekadar hasil imajinasi orang-orang film.
Namun, kenyataannya, manusia memang senang dan gembira disuguhi tontonan fiksi. Karena itu, industri film bisa berkembang pesat: manusia menyukai cerita-cerita fiksi dan tokoh-tokoh superhero. Dan di situlah letak realitas pikiran manusia — ia hidup dari narasi, dari kisah yang menggugah imajinasi dan emosi.
Mungkin karena itulah manusia juga mudah terpikat oleh narasi-narasi yang dihembuskan para pemimpin. Meski kadang tidak disadari, narasi-narasi itu telah merasuk ke dalam pikiran dan mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari.
Sebut saja narasi “sinergi”. Inilah yang sering digembar-gemborkan para pemimpin, karena sejatinya mereka membutuhkan kekuatan bersama untuk mewujudkan visi dan misi.
Kenyataannya, ada banyak jenis narasi yang dihembuskan, dan kadang juga saling bersaing untuk mempengaruhi massa. Ada narasi optimisme yang membawa harapan bagi perbaikan ekonomi dan kehidupan bangsa, namun ada pula narasi buram berisi pesimisme, kebencian, dan kedengkian.
Pertanyaannya, manakah yang akan unggul di antara dua jenis narasi itu?
Pada akhirnya, semuanya kembali pada masyarakat itu sendiri: narasi mana yang mereka santap setiap hari. Dan itu pun bergantung pada apa yang disajikan oleh media saat ini.
Menyadari betapa besar dampak yang dihasilkan dari sebuah narasi, pemerintah tampaknya perlu menjaga agar narasi-narasi yang berkembang dan mendominasi ruang publik adalah narasi positif — narasi yang membangun optimisme dan kemajuan negeri.
Saya kembali menengok ke arah jendela. Ada gumpalan awan putih besar yang melintas. Warna langit tak lagi dominan biru; awan putih itu menutupinya, bergumpal-gumpal. Barangkali dalam beberapa jam ke depan, gumpalan itu akan turun menjadi hujan.
Sebagaimana awan putih itu, narasi-narasi positif juga perlu dibentuk seperti awan: lalu diturunkan untuk menghujani pikiran rakyat, menumbuhkan benih-benih harapan, hingga kelak tumbuh menjadi pepohonan hijau — rimbun, meneduhkan, dan sebagian mungkin berbuah manis.