Rel alternatif

-(Jumat, 21 November 2025)-

Sudah dua hari ini saya tidak berangkat ke mushola untuk sholat Subuh berjamaah. Alasan utamanya adalah hujan—bukan sekadar gerimis, tetapi hujan deras yang turun setiap dini hari. Anehnya, hujan itu selalu datang tepat saat masuk waktu Subuh. Praktis, niat saya untuk ke masjid pun harus saya urungkan.

Sebenarnya ada perasaan tidak nyaman ketika kebiasaan sholat berjamaah di masjid atau mushola itu tidak saya lakukan. Mungkin karena sudah menjadi satu kebiasaan, sehingga ketika ditinggalkan seperti ada yang kurang dalam keseharian. Selain itu, dorongan atas pahala dan keutamaan sholat berjamaah bagi pria membuat saya merasa rugi jika melewatkannya.

Namun apa boleh buat, sebab hujan barangkali semesta tidak mengizinkan saya pergi sholat berjamaah. Jika kita berprasangka baik, ini juga bisa menjadi bagian dari rencana Tuhan. Barangkali ada hal berharga lain yang bisa saya lakukan untuk menutup amalan sholat Subuh berjamaah itu dengan amalan lainnya. Karena itu, saya pun menambah lembaran Al-Qur’an yang saya baca setelah sholat Subuh.

Ini memang sudah menjadi satu kebiasaan pagi yang saya lakukan: membaca Al-Qur’an. Hanya saja pagi ini saya tambah satu halaman dari jumlah halaman biasanya.

Jam di smartphone saya menunjukkan pukul 05.28. Terdengar suara hujan di luar rumah. Artinya kurang lebih sudah setengah jam hujan itu turun. Entah sampai jam berapa hujan ini reda. Nampaknya aktivitas pagi saya selanjutnya, yaitu jalan pagi, juga akan tertunda.

Namun, tidak apa-apa. Biarlah semesta berjalan dengan semestinya sesuai dengan hukumnya. Bagaimanapun, saya sudah punya rencana cadangan. Ketika tak bisa berolahraga di luar, saya masih bisa berolahraga beban di dalam rumah.

Begitulah, jalannya hidup tak mesti bergerak dalam satu rel. Kita butuh alternatif rel lainnya manakala rel utama yang ingin kita lewati terhalang oleh keadaan. Selalu ada alternatif atas apa yang akan kita lakukan—selama kita mau menyesuaikan diri. Karena pada akhirnya, keluwesan sikap adalah cara kita tetap bergerak di tengah ketidakpastian.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"