Dokter vs sendok

-(Kamis, 13 November 2025)-

Inilah sebuah guyonan yang menggelitik nalar. Bagaimana satu diagnosis mendalam dari hasil belajar selama lima tahun dikalahkan dengan sebuah sendok dan kerokan.

Ini terjadi ketika ada seorang keluarga yang sakit dengan gejala: perut kembung, mual, muntah, serta gejala klinis lainnya.

Anak saya, yang sedang menempuh pendidikan kedokteran, berusaha menganalisis kondisi tersebut. Dari hasil pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa ada sesuatu di bagian usus yang menghambat proses pembuangan hasil pencernaan.

Namun tiba-tiba datang keluarga lain yang berusaha membantu meringankan sakit. Melihat gejalanya mirip “masuk angin”, ia segera mengambil sendok makan, lalu mengeroki punggung kerabat yang sakit itu. Dengan yakin ia berkata, “Lihat nih, punggungnya merah semua.” Menurutnya, hal itu menandakan bahwa si pasien benar-benar masuk angin dan sekarang anginnya sudah keluar.

Anak saya yang melihat kejadian itu tampak jengkel. Ia kemudian bercerita kepada saya dan berkata, “Masak aku sudah sekolah lima tahun di kedokteran, kalah sama sendok.” Mendengar itu, kontan kami tertawa terbahak-bahak.

Namun tawa itu bercampur rasa miris. Sebab kenyataan seperti ini memang sering kita jumpai di masyarakat. Cerita di atas hanyalah satu contoh kecil dari fenomena yang lebih luas — masih banyak mitos dan cara pengobatan yang dianggap mampu menyembuhkan berbagai penyakit tanpa dasar ilmiah.

Dulu, misalnya, pernah ramai cerita tentang seorang bocah dengan batu di tangannya yang diyakini dapat mengobati berbagai jenis penyakit. Cukup dengan meminum air yang telah dicelup batu itu, orang-orang percaya penyakit mereka akan sembuh.

Dan hingga kini, masih banyak pula teknik pengobatan lain yang diberi label “pengobatan alternatif”, yang tetap didatangi banyak orang dengan harapan memperoleh kesembuhan.

Mengapa hal itu terjadi?

Faktor utamanya adalah kurangnya edukasi kesehatan di masyarakat tentang penyakit dan cara penanganannya. Selain itu, masih banyak pula masyarakat yang berpegang pada apa yang disebut logika mistika — cara berpikir yang mengaitkan sakit dengan hal-hal gaib atau supranatural.

Sebab lain adalah mahalnya biaya pengobatan di rumah sakit, sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan yang lebih murah. Padahal, cara seperti ini justru sering memperparah penyakit dan akhirnya membuat biaya pengobatannya menjadi lebih mahal.

Masalah biaya ini sebenarnya mulai dapat diatasi dengan adanya BPJS Kesehatan, yang membantu meringankan beban masyarakat dalam membayar pengobatan di fasilitas medis. Artinya, akses terhadap pelayanan kesehatan yang layak kini sudah lebih terbuka.

Faktor lainnya, kadang pasien atau keluarganya tidak sabar menghadapi proses pengobatan yang memerlukan waktu. Mereka ingin segera sembuh dan tidak ingin menunggu lama di rumah sakit. Akibatnya, mereka beralih ke pengobatan lain yang dianggap lebih cepat dan manjur. Padahal, yang sering terjadi justru penanganan penyakit tidak lagi sesuai dengan prosedur medis.

Begitulah realitas yang masih terjadi di masyarakat kita.

Beberapa kali anak saya bercerita tentang pengalamannya menghadapi pasien-pasien. Dari situ, ia menarik satu kesimpulan: masyarakat masih rendah literasi kesehatannya dan sangat membutuhkan edukasi.

Itu bukan pilihan kata-katanya sendiri, karena ia menyampaikan dengan bahasa yang lebih lugas. Tetapi maknanya jelas: di tengah masyarakat yang masih percaya sendok bisa mengalahkan diagnosis, pekerjaan seorang tenaga medis bukan hanya mengobati — melainkan juga mendidik agar masyarakat berpikir lebih rasional tentang kesehatan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"