Normalisasi bosan
-(Kamis, 27 November 2025)-
Apa yang membuat kita bosan? Pekerjaan, kegiatan, acara, atau aktivitas yang dilakukan berulang-ulang. Pengulangan itu menjadikan sebuah aktivitas yang awalnya bermakna dan menarik menjadi hal yang biasa, tak lagi istimewa. Padahal, barangkali di tempat lain aktivitas yang sama bisa dianggap mustahil atau bahkan ajaib untuk dilakukan.
Meski demikian, repetisi itulah yang pelan-pelan membentuk kebiasaan. Aktivitas yang terus diulang akan mengendap menjadi pola, kemudian berkembang menjadi tradisi, bahkan budaya. Dengan kata lain: repetisi itu penting, terutama ketika kita ingin membentuk kedisiplinan, membangun habit, hingga menempa karakter. Masalahnya, proses tersebut sangat membosankan.
Biasanya, kita berusaha mencari cara untuk mengatasi rasa bosan itu. Namun alih-alih bertanya bagaimana menghilangkan kebosanan, kita bisa membalik pertanyaan tersebut: mengapa harus dihilangkan? Mengapa kita tidak menjadikan rasa bosan sebagai sesuatu yang biasa saja?
Bagaimana jika saat kebosanan datang, kita hanya berkata: “Ya sudah, memang membosankan. Tidak apa-apa. Memang jalannya sudah seperti itu. Itu kodrat manusia—selalu berjumpa kebosanan.” Dengan perspektif seperti ini, rasa bosan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan bagian alami dari hidup.
Normalisasi rasa jenuh diperlukan agar manusia tidak terjebak pada ketakutan, kecemasan, atau rasa bersalah ketika kebosanan muncul. Dengan menganggap bosan sebagai kondisi yang wajar, manusia menjadi lebih tangguh dalam menjalaninya. Biarkan tubuh dan pikiran menikmati rasa bosan itu, tanpa tergesa-gesa mencari pelarian ke aktivitas lain atau distraksi yang tak berkesudahan.
Ketika manusia mampu menikmati rasa bosan hingga ia bosan terhadap kebosanannya sendiri, sebuah perubahan psikologis menarik bisa terjadi: pencerahan kecil dalam kesadaran. Mengapa demikian? Karena pada titik itu, ia benar-benar hadir pada momen kini. Ia menyadari kebosanannya, merasakannya sepenuhnya, tanpa berusaha melarikan diri ke masa lalu atau berkhayal tentang masa depan. Ia hanya hidup di saat ini—bersama bosannya.
Dan ketika penerimaan total itu berlangsung, rasa bosan tak lagi menekan. Ia mereda. Yang menghadirkan diri kemudian adalah kedamaian. Kejernihan batin. Ketentraman yang justru muncul dari hal yang selama ini ingin kita hindari.
Begitulah anomali tubuh dan pikiran manusia: ketika kita berhenti melawan, kita justru menang.