Lagu imitasi

-(Rabu, 19 November 2025)-

Sekarang ini sudah banyak lagu-lagu yang digenerate akal imitasi (AI). Bahkan ada lagu cover yang juga dinyanyikan AI. Hasilnya: sangat enak didengar di telinga. Selain memang karena semakin canggihnya AI, barangkali ini juga menjadi semacam “pelarian” bagi beberapa pihak yang merasa terganggu dengan aturan royalti atas lagu-lagu asli yang diputar atau dinyanyikan.

Ini tentu sungguh ironis. Aturan itu dibuat untuk memberikan hak bagi musisi, tapi di sisi lain, seperti yang sempat heboh beberapa waktu lalu, agak berlebihan. Bagaimanapun aturan yang berlebihan pastilah akan membuat warga kecewa.

Persoalannya tidak berhenti sampai disitu. Setelah orang-orang beralih ke musik AI, lambat laun daya kreatif untuk menciptakan lagu sendiri berpotensi menurun. Ini tentu akan sangat mengkhawatirkan. Seperti kekhawatiran banyak pihak atas dampak AI pada banyak sisi kehidupan terutama industri kreatif.

Begitulah. Kemajuan teknologi dan keinginan masyarakat rupanya saling melengkapi dan mampu memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Ketika keinginan mereka dihadapkan pada tembok pembatas, mereka akan mencari alternatif. Yang bahkan alternatif itu bisa membuat semua orang meninggalkan sesuatu yang diatur itu. Jika sudah begitu, tak ada lagi guna dan manfaatnya.

Bagaimanapun aturan yang berlebihan akan menimbulkan masalah. Karenanya, ambilah selalu jalan tengah.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"