Melatih diri
-(Senin, 17 November 2025)-
Prinsip bahwa latihan adalah proses untuk mencapai tingkatan sebuah kompetensi atau keahlian, adalah hal yang tidak terbantahkan. Barangkali prinsip ini kemudian digunakan sebagai cara untuk melatih akal imitasi (AI) hingga ia mampu mengerjakan atau menjawab semua tugas yang diberikan manusia.
Dan kita tahu semakin hari akal imitasi ini semakin canggih saja. Semua karya-karya kreatif sudah bisa dikerjakan oleh AI. Itu semua karena ia terus belajar dan dilatih. Proses ini bermula dari contoh yang dilakukan oleh manusia. Ketika setiap hari manusia itu terus berlatih pada satu keahlian atau kompetensi, lambat laun ia akan berada pada maqom tertinggi atas keahlian itu. Ada yang bilang, latihan selama minimal 1000 kali akan membawa manusia pada level ahli.
Untuk memberikan motivasi kepada para generasi muda saat ini, mari kita balik alur ceritanya. Ini dimaksudkan agar mereka melihat buktinya secara langsung, bukan sekadar bayangan atau fiksi belaka.
Saya membayangkan ketika memotivasi mereka agar terus tekun berlatih setiap hari, kita dapat mengatakan: “Contohlah apa yang terjadi dengan akal imitasi.” Dalam prosesnya, akal imitasi ini terus dilatih untuk mampu mengerjakan tugas-tugas atau menjawab semua pertanyaan. Ia dilatih untuk mengenali pola-pola — dan dengan pola itu akhirnya ia mampu menjawab atau menyelesaikan tugasnya.
Dengan bukti kecanggihan akal imitasi itu — di mana ia mengalami proses latihan yang terus menerus — maka semestinya anak-anak muda juga melakukan hal yang sama. Yakni terus melatih diri agar benar-benar ahli dalam satu bidang yang ia tekuni. Sehingga ia memiliki value atas dirinya dan membedakan dirinya dengan orang lain.
Begitulah. Dalam banyak cara, alur cerita bisa kita balik. Jika sebelumnya AI mencontoh apa yang dilakukan oleh manusia, barangkali sekarang dan ke depan manusia akan mencontoh apa yang dilakukan AI.