Rahmat timbangan
-(Rabu, 17 Desember 2025)-
Kisah ini sebenarnya sudah lama saya dengar. Bahkan, seingat saya, beberapa kali saya pernah menyampaikannya kepada audiens semasa masih aktif dalam dunia dakwah. Artinya, jauh sebelum tulisan ini dibuat, kisah tersebut telah lebih dulu hidup dalam ingatan saya. Jika tidak salah, saya pertama kali mendengarnya dari ceramah seorang mubaligh yang pada masanya dikenal dengan sebutan da’i sejuta umat.
Dahulu, dikisahkan ada seorang ahli ibadah yang hidup selama lima ratus tahun. Seluruh hidupnya ia habiskan dalam khalwat, memusatkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah. Ketika hari penghitungan amal tiba, tibalah giliran ahli ibadah tersebut. Singkat cerita, Allah kemudian menetapkan bahwa ia masuk surga karena rahmat-Nya.
Mendengar keputusan itu, sang ahli ibadah merasa keberatan. Ia memprotes. Dalam benaknya terlintas pertanyaan: bagaimana mungkin setelah lima ratus tahun hidup hanya untuk beribadah, ia dikatakan masuk surga bukan karena amalnya, melainkan karena belas kasih Tuhan? Barangkali ada rasa gengsi yang terusik. Ia ingin surga yang diperolehnya benar-benar karena usaha kerasnya sendiri, bukan semata-mata karena rahmat.
Atas protes tersebut, Allah memerintahkan malaikat untuk menunjukkan sebuah contoh perhitungan. Satu nikmat saja yang ditimbang, yakni nikmat mata yang selama ini telah Allah berikan. Nikmat itu dibandingkan dengan seluruh amal ibadahnya selama lima ratus tahun. Hasilnya ternyata mengejutkan: timbangan nikmat mata masih lebih berat daripada timbangan amal ibadah. Artinya, untuk satu nikmat saja, ia masih berutang. Belum lagi nikmat-nikmat lainnya seperti telinga, tangan, dan seluruh anggota badan.
Menyaksikan kenyataan itu, sang ahli ibadah pun tersadar. Ia memahami bahwa sebanyak dan selama apa pun ibadah dilakukan, semua itu tak akan sanggup mengimbangi nikmat dan anugerah yang telah Allah limpahkan. Pada titik kesadaran itulah ia memohon agar dimasukkan ke dalam surga semata-mata karena rahmat Tuhan.
Kisah ini terdapat dalam sebuah hadis Nabi SAW. Selain hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik, saya kemudian merenung tentang bagaimana Nabi mengisahkan sebuah cerita yang melintasi ruang dan waktu. Sebuah kisah yang bergerak mundur ke masa silam, lalu melompat jauh ke masa depan, ke alam akhirat.
Setidaknya ada dua hal yang saya petik dari kisah tersebut. Pertama, siapa pun yang masuk surga sejatinya masuk karena ridha dan rahmat Tuhan. Dengan kata lain, tujuan utama hidup bukanlah sekadar mengumpulkan pahala, sebab sebanyak apa pun pahala itu tak akan mampu menebus nikmat yang telah Allah berikan. Tujuan hidup seorang hamba adalah mencari ridha Tuhan. Dan jalan menuju ridha itu adalah dengan menjalankan kewajiban serta menjauhi larangan-Nya—itulah takwa.
Pelajaran kedua, kisah ini menginspirasi saya untuk menulis sebuah cerita, barangkali cerpen atau novel, yang juga melintasi ruang dan waktu. Alur maju-mundur, atau sebaliknya, selalu memberi daya tarik tersendiri dan membuat sebuah cerita terasa lebih hidup dan reflektif.
Begitulah. Tempo hari, selepas Maghrib, saya kembali mendengar kisah ini dalam sebuah pengajian di masjid raya. Kisah lama itu kembali mengetuk kesadaran saya. Dari sanalah muncul dorongan untuk menuliskannya kembali, sebagaimana untaian kalimat di atas.