Kuasa algoritma
-(Senin, 8 Desember 2025)-
Algoritma media sosial benar-benar membuat setiap orang hidup dalam dunia yang berbeda. Seseorang yang setiap hari membuka, membaca, mengklik, dan menonton berita serta diskusi politik akan diarahkan algoritma untuk terus menerima lebih banyak akun dan kanal bertema politik. Begitu pula ketika seseorang sering menyaksikan ceramah agama, ia akan disuguhi lebih banyak lagi konten sejenis—bahkan dengan pola pemikiran yang sama. Dan begitu seterusnya.
Algoritma yang selalu menuntun setiap orang menuju apa yang sesuai dengan kesukaannya, akhirnya menciptakan jagat digital yang terfragmentasi: timeline dan FYP setiap orang tidak pernah sama. Sesuatu yang dianggap viral oleh satu pihak, bisa jadi sama sekali tidak muncul di beranda orang lain. Kita merasa hidup dalam ruang publik yang sama, padahal kita sebenarnya berada dalam realitas informasi yang berlainan.
Pertanyaan kritis pun muncul: apakah ini baik atau buruk bagi kita?
Jawabannya tentu tergantung sudut pandang. Bagi mereka yang memiliki kepentingan pendoktrinasian, algoritma adalah alat yang sangat efektif. Seseorang dapat terus dijejali pemikiran dan berita yang sama setiap hari, hingga ia semakin yakin akan kebenaran informasi tersebut—padahal bisa jadi itu hanyalah hoaks yang diulang-ulang.
Di sisi lain, ada sudut pandang yang menilai ini sebagai bentuk pembodohan yang mengurung pikiran. Ketika manusia tidak berupaya mencari informasi pembanding, algoritma menjerumuskannya menjadi “katak dalam tempurung” yang menganggap dunia sempit di hadapannya sebagai keseluruhan realitas.
Namun tetap ada sisi baiknya. Paparan pengetahuan yang berulang pada satu bidang keahlian dapat mempercepat proses pendalaman ilmu. Jika setiap hari seseorang terpapar pemikiran filsafat, dan ia menekuninya dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin ia berkembang menjadi ahli pada bidang tersebut.
Akhirnya, algoritma hanya memberi berbagai tawaran. Pilihan tetap berada di tangan manusia, sesuai kepentingannya masing-masing. Hanya saja, perbedaan kepentingan itu sering kali menimbulkan ketegangan antar kelompok, karena setiap orang hidup dalam kebenaran versinya sendiri.
Jika sudah demikian, barangkali satu-satunya jalan keluar hanyalah pikiran yang terbuka—kemampuan untuk keluar dari gelembung sendiri, dan keberanian untuk melihat dunia yang lebih luas daripada apa yang dikurasi oleh algoritma.