Heroik & egois
-(Selasa, 9 Desember 2025)-
Narasi kepahlawanan barangkali telah merasuk dalam pikiran dan hati manusia sejak awal peradaban. Ketika leluhur kita menghadapi kondisi alam yang berat, selalu ada individu yang melakukan tindakan yang meringankan beban sesamanya. Ketika terjadi konflik antar kelompok, ada pula yang berani menyelamatkan anggota kelompoknya dari ancaman kelompok lain. Aksi-aksi inilah yang kemudian diberi narasi: kepedulian dan kepahlawanan.
Sebaliknya, ketika seseorang atau kelompok tidak peduli pada rekannya yang cedera saat berburu—bahkan meninggalkannya karena dianggap beban—tindakan itu kelak dipandang sebagai sesuatu yang tercela. Begitu pula dalam bencana: ketika orang-orang yang punya akses keselamatan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa peduli pada nasib yang lain, aksi itu dilabeli sebagai bentuk ketidakpedulian dan keegoisan.
Menariknya, kedua bentuk tindakan tersebut sama-sama bersifat abstrak pada level persepsi. Aksinya memang berbeda, tetapi cara manusia menilai dan memberi makna pada aksi itu menciptakan dua kutub yang bertolak belakang: kepahlawanan dan keegoisan.
Lalu muncul pertanyaan penting: mana di antara keduanya yang sebenarnya membuat manusia bisa bertahan hingga hari ini?
Secara intersubjektif, cap kepahlawanan disepakati sebagai sesuatu yang positif, terpuji, dan mulia. Namun jika dilihat dari sudut pandang keberlangsungan hidup, kepahlawanan menyimpan risiko besar: misi utama makhluk hidup adalah bertahan dan mempertahankan keturunan. Jika setiap orang memiliki jiwa heroik yang membutakan logika hingga mengorbankan dirinya sendiri, bukan tidak mungkin semuanya justru musnah bersama-sama.
Heroisme yang tidak memperhitungkan kondisi dan kemampuan justru dapat menjadi jalan menuju kehancuran.
Karena itu, membanggakan diri sebagai pahlawan yang “berhasil bertahan dalam kondisi darurat” mungkin terasa naif. Sebaliknya, mencela mereka yang mengevakuasi diri sebagai pecundang atau egois mungkin hanyalah upaya mencari validasi—cara menutupi kegagalan dan keterbatasan diri sendiri.
Kenyataannya, kedua pilihan itu memiliki dasar masing-masing. Naluri menyelamatkan diri adalah insting evolusioner yang diwariskan nenek moyang demi kelangsungan spesies. Sementara naluri heroik barangkali tidak tertulis dalam gen, melainkan dibangun melalui narasi sosial. Bisa jadi ia lahir sebagai strategi manipulatif untuk memperoleh pengaruh dan kedudukan dalam kelompok: tindakan heroik mendatangkan simpati, mengesankan kekuatan, dan menghadirkan legitimasi untuk memimpin.
Pada titik ini, heroisme tampak bukan sekadar bentuk altruistik, melainkan juga strategi sosial untuk menunjukkan keunggulan dan meraih posisi lebih tinggi.
Jika disederhanakan, manusia bertahan bukan hanya karena ada mereka yang rela berkorban—tetapi juga karena ada mereka yang memilih menyelamatkan diri. Keduanya, heroik dan egois, sama-sama bagian dari mekanisme bertahan hidup umat manusia. Dan mungkin, keseimbangan di antara keduanya lah yang menjaga kita tetap eksis hingga hari ini.