Jerat struktur
-(Minggu, 14 Desember 2025)-
Situasi dan kondisi seperti apa yang memungkinkan manusia berpikir secara mendalam tentang sains, teknologi, atau bahkan tentang bagaimana kesadaran itu sendiri muncul? Pertanyaan ini muncul karena mudah sekali membayangkan keadaan di mana manusia justru tidak memiliki ruang batin untuk itu.
Bayangkan seseorang yang setiap hari masih disibukkan dengan urusan paling dasar: bagaimana mengisi perut, di mana tidur malam nanti, atau bagaimana memastikan kebutuhan primer untuk bertahan hidup terpenuhi. Dalam keadaan demikian, tentu saja mustahil mengharapkan ia memikirkan persoalan abstrak yang berada jauh di luar lingkar kebutuhan mendesaknya.
Kita juga bisa membayangkan kondisi lain yang lebih “modern” namun tidak kalah menyita pikiran: bagaimana mencari pekerjaan, membayar utang, memenuhi tuntutan sosial, atau sekadar mengikuti ritme pergaulan yang penuh distraksi. Situasi-situasi ini tetap mengurung manusia dalam lingkar persoalan sehari-hari, sehingga kapasitas untuk memikirkan sains, teknologi, atau kesadaran pun mengecil.
Bayangkan pula masyarakat yang energi intelektualnya habis oleh gosip selebritas, gaya hidup, perselingkuhan, atau drama sosial-politik yang remeh-temeh—karena dendam politik akibat kalah pilpres. Semua ini memperlihatkan betapa rapuhnya ruang publik kita untuk hal-hal yang lebih mendalam.
Gambaran tersebut menggema kuat di banyak negara berkembang yang terjebak dalam middle income trap. Ironisnya, masyarakat semacam ini sering “sok-sokan” berbicara tentang AI, ekonomi hijau, atau investasi kripto, padahal fondasi struktural mereka belum mapan. Dalam kondisi seperti ini, sulit membayangkan lahirnya pemikiran serius tentang kesadaran atau sains tingkat tinggi; yang mungkin terjadi hanyalah menjadi pengguna teknologi—atau sekadar ikut-ikutan mode intelektual global.
Pertanyaannya, lalu bagaimana menciptakan masyarakat yang mampu berpikir pada level yang lebih maju? Masalah ini jelas bukan persoalan satu dimensi. Ia tumbuh dari struktur yang kompleks—mengakar di pendidikan, ekonomi, budaya, dan institusi—sehingga tidak mungkin diselesaikan oleh satu kebijakan atau satu generasi saja. Dan ketika kita ingin memperbaiki semuanya sekaligus, tantangan nyata sudah lebih dulu berdiri di hadapan kita.
Pada akhirnya, kita mudah tergoda untuk berkata: sudahlah, terima saja kondisi saat ini, daripada menghabiskan energi untuk perubahan yang terasa mustahil. Namun resignasi semacam itu justru memperlihatkan betapa beratnya problem yang kita hadapi.