Laku memilih

 -(Rabu, 24 Desember 2025)-

Seperti pagi itu, saya dihadapkan pada dua pilihan: ke langgar timur atau ke langgar utara. Bahkan sebelum berangkat, saya sudah lebih dulu berhadapan dengan pilihan lain yang tampak sepele, tetapi nyata: memilih peci—peci Indonesia atau peci model lain yang saya beli di Mekkah.

Pilihan-pilihan itu tidak berhenti di sana. Ketika hendak berolahraga jalan dan lari, saya kembali harus menentukan lokasi: cukup di sekitar rumah, atau di lingkungan yang lebih hijau. Setelah akhirnya memilih lingkungan hijau, rute yang saya tempuh pun kembali menuntut keputusan. Apakah hanya memutar di jalur pendek, atau mengambil jalur yang lebih panjang.

Kenyataannya, setelah selesai olahraga, saya masih dihadapkan pada pilihan berikutnya: tempat sarapan. Dan ketika warung sudah dipilih, persoalan belum selesai. Saya masih harus menentukan menu—patin bakar atau haruan bakar.

Bahkan sebelum sampai ke warung itu, saya sempat berhenti di pinggir jalan, tepat di depan lapak penjual durian. Di sinilah pilihan menjadi lebih rumit. Saya mesti memilih durian mana yang hendak dibeli, padahal kita tak pernah benar-benar tahu isinya: apakah manis atau justru mengecewakan. Apalagi penjualnya tidak menyediakan layanan icip-icip. Justru di titik inilah intuisi dilatih—kemampuan membaca tanda-tanda yang tak kasatmata. Menariknya, semua durian yang saya beli rasanya enak. Bahkan saya mendapatkan beragam varian rasa. Nampaknya, keempat durian itu berasal dari pohon yang berbeda.

Dari rangkaian pengalaman sederhana tersebut, barangkali kita bisa merumuskan satu hal: hidup ini memang tersusun dari pilihan-pilihan. Setiap hari, setiap saat, setiap momen, kita dihadapkan pada beberapa—bahkan kadang banyak—pilihan yang mesti kita tentukan.

Celakanya, sebagai manusia modern, di balik pikiran kita telah tertanam kuat paradigma untung-rugi, cost-benefit, serta kategori baik dan buruk atas setiap pilihan. Konsep opportunity cost membuat kita merasa selalu ada kerugian yang harus dibayar ketika memilih satu di antara banyak kemungkinan. Akibatnya, proses memilih sering kali menjadi tidak mudah dan menuntut energi berpikir yang besar.

Padahal, dengan kemampuan kognitif dan memori yang dimiliki, otak manusia merekam berbagai pengalaman yang pernah dihadapi. Pengalaman-pengalaman itu tersimpan di alam bawah sadar dan perlahan membentuk apa yang kita sebut intuisi atau insting—entah apa pun istilahnya. Melalui mekanisme inilah seseorang dapat menemukan pilihannya dengan cepat, tanpa harus selalu terjebak dalam kalkulasi panjang.

Namun, kita juga dihadapkan pada kenyataan lain: tidak jarang otak manusia dibajak oleh dorongan emosional. Tanpa berpikir panjang tentang dampak yang akan terjadi, seseorang memilih sesuatu semata untuk menuruti kesenangan, atau sekadar memenuhi keinginan yang dipicu oleh emosi sesaat.

Di titik inilah perilaku manusia kerap tampak membingungkan—sekaligus menegaskan betapa manusia adalah makhluk yang sungguh aneh dan kompleks.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"