Alur mimpi

-(Jumat, 19 Desember 2025)-

Saya ingin bereksperimen untuk membuat satu tulisan dengan alur seperti mimpi. Yang tak pernah sistematis, runut, dan kadang absurd. Setidaknya, itu mimpi-mimpi yang pernah saya alami.

Alur seperti itu sebenarnya kerap terjadi dalam keseharian kita ketika kita ngobrol di tongkrongan. Di mana banyak topik yang kita bicarakan, yang runtutannya secara alur berpikir sangat tidak terstruktur alias tidak sistematis. Setelah ngobrol tentang pekerjaan, tiba-tiba nyambung ke soal makanan. Lalu lanjut ngomongin teman, kemudian ke soal politik, dan sebagainya.

Artinya, obrolan itu tidak fokus pada satu topik. Dan itulah yang ingin saya coba praktikkan dalam tulisan yang ingin saya buat.

Sebuah tulisan dapat berisi cerita, opini, atau berita. Yang semuanya tergantung pada kecenderungan penulisnya. Apakah ia menyukai cerita, aktif beropini di media, atau orang yang gemar menjadi pembawa berita nomor satu.

Kenyataannya, sebagian orang berlomba-lomba untuk menjadi pembawa kabar pertama. Setidaknya ada orang yang merasa perlu satu informasi itu penting untuk diketahui oleh banyak orang. Maka kita kerap mendapati orang-orang yang suka membagikan berita atau pesan-pesan di grup WA, bahkan tanpa ia mengecek kebenarannya. Inilah yang membuat sebagian orang malas untuk bergabung dalam banyak grup WA.

Masalahnya, grup WA saat ini seolah sudah menjadi sebuah keniscayaan yang mesti diikuti oleh setiap orang yang punya smartphone. Apakah itu grup WA alumni sekolah, atau yang terkait pekerjaan, bahkan ada yang sekadar soal hobi atau olahraga.

Misalnya, yang suka lari dan gowes, mereka membuat satu grup WA. Di dalamnya kerap di-share event-event lari dan gowes yang diadakan oleh satu institusi. Selain hadiah, yang mereka kejar adalah medali, di mana mereka mengoleksi medali-medali dari hasil mereka lari.

Pun saya pernah dapat medali karena saya ikut event lari. Tapi entah di mana medali itu saya simpan. Artinya, saya tak peduli dengan medali itu. Saya tak menjadikan medali itu sebagai sebuah tujuan. Toh, saat ikut event lari itu, saya juga tak tahu akan dapat medali.

Kata medali ini identik dengan tiga hal: emas, perak, dan perunggu. Itu adalah urutan medali sebagai hadiah dan penghargaan dalam event olahraga, baik itu Olimpiade dunia atau event nasional seperti PON. Dan semua tahu bahwa medali emas adalah penghargaan bagi juara pertama.

Apakah medali itu benar-benar terbuat dari emas, ataukah hanya istilah, itu yang perlu diragukan. Apalagi dengan harga emas belakangan ini yang sempat naik gila-gilaan. Katanya, itu dipicu oleh banyaknya permintaan emas. Dan barangkali juga ketakutan para investor untuk melindungi hartanya. Dan tentu saja ditambah oleh mereka yang FOMO melihat orang antre beli emas.

Tak hanya soal emas, FOMO juga kerap terjadi pada sebagian besar gen Z yang melihat teman-temannya bisa membeli barang mewah, atau sedang piknik, atau sedang nonton konser.

Bahkan FOMO itu bisa pula terjadi pada saya yang pengen bisa seperti para novelis itu. Mereka mampu membuat karya fiksi yang luar biasa. Bagi saya, penulis novel itu laksana Tuhan. Ia menciptakan karakter dan takdir dari setiap karakter itu.

Nampaknya saya harus berhenti mengetik tulisan ini. Karena ketika terus dilanjutkan, sepertinya tak akan menemukan ujungnya. Dan benar saja, ketika menulis dengan gaya mimpi, tulisan itu tak fokus; ia bisa meloncat ke banyak topik dan hanya berhenti ketika kita bangun.

Dan saatnya saya bangun dari tulisan ini. Agar berhenti.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"