Kuliner cempedak
-(Kamis, 1 Januari 2025)-
Apakah Anda pernah makan cempedak goreng?
Nangka goreng mungkin Anda pernah memakannya. Tetapi cempedak goreng, belum tentu. Mengapa? Sebab tidak semua daerah ditumbuhi cempedak. Buah ini memang tidak hidup di sembarang tempat.
Bisa jadi Anda bahkan belum pernah melihat buahnya. Terlebih jika Anda tinggal di wilayah pesisir, di pinggir pantai, tempat tanahnya asin, berpasir, dan angin laut berembus tanpa henti—kondisi yang membuat cempedak sulit tumbuh. Sebaliknya, ia lebih banyak hidup di hutan pedalaman, di tanah lembap yang subur, seperti di Kalimantan.
Bagi masyarakat yang akrab dengan cempedak, buah ini bukan sekadar buah musiman, melainkan sumber pangan yang dekat dengan kehidupan. Ia telah menjadi menu populer. Hampir semua bagian buahnya dapat diolah dan dikonsumsi. Salah satunya adalah cempedak goreng—yang menariknya, bukan hanya daging buahnya yang digoreng, tetapi juga bijinya. Biji cempedak digoreng garing dan bisa langsung dimakan, tanpa limbah yang tersisa.
Di titik ini, saya teringat pertanyaan yang sejak tadi mengusik pikiran: bagaimana manusia pertama kali menemukan bahwa setiap bagian buah cempedak bisa menjadi makanan?
Bagaimana bisa seseorang mendapat ide mengolah kulit dalamnya menjadi mandai? Atau berpikir bahwa cempedak muda layak dijadikan sayur? Atau memutuskan menggoreng bukan hanya buahnya, tetapi juga isinya?
Dugaan terkuat saya tetap sama: semuanya bermula dari coba-coba. Mungkin diawali oleh kebetulan, lalu berkembang menjadi eksperimen yang disengaja. Penemuan pangan, jika ditelusuri, jarang lahir dari teori—ia hampir selalu lahir dari keberanian mencicipi hal yang belum pasti.
Sebenarnya, saya bisa membayangkan urutan peristiwanya, membuat imajinasi tentang orang pertama yang menyingkap kulit cempedak, mencium getahnya, lalu dengan setengah ragu tetap memasukkannya ke dalam kuali. Tetapi saya sedang malas mengetiknya kali ini. Jadi, silakan Anda membuat imajinasi Anda sendiri tentang apa yang terjadi. Karena bagaimanapun, imajinasi manusia selalu menjadi pintu pertama kemajuan. Dari sanalah peradaban bergerak, dari sanalah rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut.
Dan dari rasa ingin tahu sederhana itulah, kemungkinan besar, cempedak—buah hutan yang tidak semua orang pernah melihatnya—menjadi menu yang hampir seluruh bagiannya bisa dinikmati.
Pada akhirnya, refleksi ini bukan hanya tentang cempedak. Ia adalah pengingat bahwa peradaban pangan kita dibangun bukan oleh kepastian, melainkan oleh keberanian untuk mencoba, mengamati, menilai, dan meneruskan yang layak. Sisanya? Diserahkan pada daya cipta manusia—yang tak pernah berhenti mengolah kemungkinan menjadi kemajuan.