Tembok besar
-(Sabtu, 13 Desember 2025)-
Saya sedang merencanakan sebuah tulisan, dimulai dari langkah sederhana: membuka situs BPS. Saya ingin mencari, melihat, dan mengambil data pertumbuhan ekonomi pada dua rezim pemerintahan sebelumnya. Fokus utama saya adalah komponen konsumsi rumah tangga. Kita tahu komponen ini memiliki porsi dominan dalam PDB; artinya, setiap perubahan signifikan di dalamnya akan meninggalkan jejak besar pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Setelah mendapatkan datanya, saya membayangkan membuat grafik yang membandingkan dua rezim tersebut. Saya ingin melihat bagaimana pergerakannya: kapan mencapai titik tertinggi, kapan berada di titik terendah, dan berapa rata-ratanya. Tentu, perbandingan seperti ini sering memicu resistensi dari kelompok tertentu, karena pada akhirnya seolah menghasilkan “pemenang.” Tetapi bukan itu tujuan saya. Saya hanya ingin melihat secara objektif, sejauh apa data berbicara.
Dari data itu, saya kemudian bisa masuk ke tahap analisis: dalam jangka panjang, bagaimana tren konsumsi rumah tangga kita? Apakah melambat, stagnan, atau justru menguat? Setiap kemungkinan membawa implikasinya masing-masing. Di balik angka-angka itu, saya ingin mengulik lebih jauh: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa penyebab pergerakan tersebut? Dan pada akhirnya, rekomendasi kebijakan apa yang masuk akal untuk dirumuskan?
Kenyataannya, upaya analisis semacam ini sudah banyak dilakukan. Ekonom pemerintah, ahli statistik, dan akademisi telah menghasilkan berbagai penelitian yang mendalam—bukan hanya tentang konsumsi rumah tangga atau pertumbuhan ekonomi, tetapi hampir semua aspek perekonomian. Kita tidak kekurangan insight untuk memperbaiki dan mengelola ekonomi.
Hanya saja, menerapkan rekomendasi itu tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang menghadang, dan salah satu yang paling klise—namun juga paling sulit diatasi—adalah problem birokrasi. Ia seperti hantu: ketika dibicarakan, keberadaannya terasa sangat nyata; tetapi saat ditelusuri lebih dekat, masalahnya seakan menghilang, digantikan dengan alibi, prosedur, dan alasan mengapa sesuatu “memang harus begitu.”
Begitulah. Hari ini sangat mudah bagi kita untuk menyusun penelitian dan analisis atas kondisi ekonomi yang sedang berlangsung. Namun apakah hasil dari analisis itu dapat menjadi pembelajaran dan benar-benar diimplementasikan? Di sinilah kita kembali berhadapan dengan tembok besar itu.